[FF] Une Tasse de L’amore – Part 1

Une Tasse de L’amore – Part 1

Main Cast: SHINee Key, (OC) Elizabeth Kwon, Exo Lu Han

Supportive Cast: (OC) Chae Yoo Jin, SHINee, Exo

Genre: Romance, Friendship, Fluff

Type: Sequel

Disclaimer: Chae Yoo Jin is Zika’s original cast, Elizabeth is mine, and so my husband Luhan. *dirajam*. SHINee selain Onew punya siapapun yang mau, Onew punya saya *ditampol*. Exo? Semua punya saya, tapi saya buka rental, kamu boleh pinjem kalo mau. *pasung gue deh sini gak apa-apa*

Warning: Kayaknya saya masih banyak typo gitu, narasi masih cap ketek, judulnya juga ngaco, jalan cerita antara simple sama banyak maunya. Mau baca, terima kasih. Gak mau baca, nanti malem ati-ati ya.

 

♥♣♥

“Berdasarkan pengumuman, kita berhasil memenangkan tender untuk proyek film pemerintah tahun ini. Sebagian dana film yang terakhir kita produksi masih tersisa untuk pembuatan awal proyek ini, sebagian lagi sudah di alokasikan untuk property drama keluarga. Sementara, pihak L.O sudah menemukan beberapa lokasi yang sesuai dalam naskah. Untuk kelengkapan pendukungnya masih harus disesuaikan, tetapi pihak property sudah menemukan beberapa barang pelengkap. Kami juga sudah mendapatkan kontrak kerjasama dengan pihak-pihak yang kemarin anda minta, namun perusahaan CW masih belum bisa dihubungi. Manager perusahaan bilang akan segera menghubungi kita begitu direkturnya sudah kembali dari Macao, proposalnya sudah di setujui hanya tinggal tanda tangan kontrak saja. Terakhir, undangan untuk screening Film Festival sudah di sebarkan dan sutradara Choo Chang Min sudah setuju untuk hadir.” Kepala direksi 1 menutup laporan.

“Terima kasih atas laporannya, tolong segera kabari saya jika CW Group tidak juga menghubungi kita dalam tiga hari. Kemarin saya dengar stasiun TV swasta juga membuka tender untuk proyek drama kolosal baru, manager perusahaan secara pribadi meminta kita untuk ikut berpartisipasi. Untuk mengoptimalkan kinerja perusahaan dalam proyek yang baru kita menangkan ini, keputusan untuk mengkuti tender itu akan di tentukan oleh potensi naskah. Jadi saya minta pihak research untuk mempelajari naskah dan proposalnya dengan baik, kemudian sesuaikan dengan pasar. Jika memang punya potensi, kita bisa ikut mendaftar. Saya pikir cukup sampai di sini rapat kita hari ini, terima kasih atas kerja kerasnya semua.”

Muda, sukses, menawan. Tiga kata itu rasanya harapan seluruh anak muda yang sedang mencari-cari masa depan mereka, namun bagi gadis ini, ia telah meraihnya. Rumah produksi paling aktif sejak tahun 2008, klien yang mengantri, kolega yang tidak berhenti berdatangan. Rasanya hidup pemilik 2Ne Production House telah mendekati kata sempurna. Seluruh gadis menatap iri padanya, setiap wajah cantik Chae Yoo Jin muncul di layar televisi.

Sajangnim, laporan statistik untuk drama keluarga divisi dua sudah keluar.” Seorang sekertaris berusaha menyamakan langkahnya dengan Yoo Jin.

“Letakkan di ruanganku,” sahutnya tanpa berhenti melangkah.

“Ye, sajangnim.”

“Eliz ada di ruangannya?”

“Ada, sajangnim.”

“Baik, terima kasih.” Yoo Jin tersenyum kemudian berbelok di koridor 3, tempat rekan kerjanya duduk santai memperhatikan para pegawai mengerjakan segala bentuk laporan. “Elizabeth Kwon!!” seru Yoo Jin begitu membuka pintu.

“Sudah selesai rapat? Lancar?”

Ia menghela nafas kemudian menjatuhkan diri di atas sofa. “Sangat menyenangkan jika aku berada di posisimu, hanya memberikan uang kemudian ke kantor jika mau. Aku rasanya sudah mau mati mengurus rumah produksi yang seperti tidak kenal lelah ini.” Yoo Jin mengeluh.

Gadis yang tengah duduk di kursi kebesarannya itu tertawa. “Jangan mengeluh, bersyukur saja karena rumah produksi kita kebanjiran proyek. Kita baru 24 tahun, oh ralat secara internasional kita masih 23 tahun, tapi sudah punya karir yang konsisten dan menjanjikan, setidaknya sampai beberapa tahun kedepan. Kalau baru sampai sini sudah mengeluh, aku takut kita tidak bertahan lama. Aku tidak tahu harus berinvestasi dimana selain di 2Ne, belakangan cafe-ku kekurangan pengunjung.”

“Kau yakin? Benar-benar akan mulai bekerja sebagai direktur aktif?”

Don’t doubt me, Yujin! Tidak ingat kita berdua sama-sama biasa dalam bidang ini? Walaupun kau jelas lebih hebat dariku, tapi setidaknya aku tahu beberapa istilah dalam perfilman. Aku sudah puas berleha-leha sebagai pemilik pasif 2Ne, hanya duduk menikmati uang yang kalian hasilkan. Sekarang, aku mau bekerja bersamamu, lagi.”

Just don’t damage anyting or something like that,”

I won’t, honey.”

“Kau sudah memberitahu kekasihmu? Bukannya ia tidak suka jika kau hampir sama sibuk dengannya?”

“Oh… aku lupa soal yang satu itu.”

.::.

What? You’ve got to be kidding me! Kau mau aktif di bidang perfilman seperti Yujin? Tidak bisa!” Eliz memutar bola mata, sudah tahu reaksinya akan begini. “Kau tahu sibuknya direktur seperti apa? Kau mau mengabaikanku? Kau mau kita mulai jarang komunikasi? Aku sibuk promosi, kau sibuk promosi. Aku sibuk manggung, kau sibuk mengurus klien dan kolega. Aku tidak suka.”

“Lantas aku harus diam di rumah? Menghabiskan uang orangtuaku? Lalu begitu cafe-ku bangkrut, aku tidak bisa investasi di 2Ne lagi? Perlahan aku jatuh miskin, kemudian 2Ne bangkrut. Hidupku sengsara, sementara kau masih bisa menikmati jeritan penggemarmu.” Eliz menatap mata kekasihnya lekat-lekat, lantas menghela nafas. Berjalan menuju meja dapur untuk mengambil selembar tissue, kemudian menyeka bibir kekasihnya.

I’m 24, honey. And i don’t have a career, not even a single job. Iya, aku punya 2Ne, punya cafe, tapi aku hanya pemilik pasif. Aku hanya memberi uang dan duduk santai. Aku butuh tantangan, aku ingin punya karir, sepertimu yang sudah hampir matang dengan karirmu sebagai bintang idola.”

“You don’t need it, you have me.”

“Aku tidak tahu apa aku bisa selamanya bersandar padamu, bahkan aku tidak tahu masa depan hubungan kita. Bukan aku tidak percaya padamu atau pada hubungan kita, Key. Tapi, siapa yang bisa menebak masa depan? Tidak ada yang menyangka setelah tiga tahun putus, kau sibuk dengan kegiatanmu bersama SHINee, kita bisa kembali berhubungan seperti ini. Percaya padaku, aku akan tetap menjawab teleponmu, kapan pun.”

Kali ini gantian Key yang menghela nafas, menarik Eliz untuk duduk di pangkuannya. “Janji tidak akan mengabaikanku! Janji, hubungan ini tidak akan merenggang!” Eliz tersenyum, mengangguk sebagai balasan. Key menyandarkan keningnya di bahu Eliz, memejamkan mata sebentar sambil menikmati harum bunga di tubuhnya.

“Sepertinya jadwal kalian padat minggu ini, wajahmu terlihat tidak segar.” Ujar Eliz, entah kenapa merasa bersalah. “Apa kau makan tepat waktu? Apa member lain juga makan tepat waktu? Sebenarnya menyakitkan melihatmu kurus karena terlalu sibuk, sementara tubuhku sulit dikendalikan karena tidak punya kegiatan.”

“Jangan bicara begitu, aku baik-baik saja. I’m on a rare holiday, wanna go on date?”

“No, i don’t feel like it. Aku hanya ingin movie marathon sambil duduk di sofa bersamamu, seharian. Aku tidak ingin melakukan hal lain. Atau, kau mau tidur sebentar?”

“Jika boleh,”

Of course, sweetie. Biar aku cuci piring ini dulu, kau berbaring saja di kasurku.”

“Tidak usah, aku akan tidur di sofa sementara kau menonton.”

“Oke, terserah katamu.” Eliz menyiram piring dan gelas kemudian mulai mencuci, sementara itu Key sudah berbaring di sofa dan tanpa sadar langsung tertidur. Tidak tega mengganggu, Eliz membiarkan kekasihnya terlelap tanpa gangguan.

Key mengerang, perlahan membuka matanya sambil meregangkan otot tubuh. “Morning,” suara Eliz memasuki pendengarannya.

“Morn… YE? PAGI? INI SUDAH PAGI?” Key buru-buru melompat dari sofa dan merapikan penampilan, sementara di dapur Eliz malah terbahak. “What?”

Aniya, nongdamiya. Masih jam lima sore,”

“YA!” Key perotes. Bisa habis nyawanya jika ia benar-benar tertidur hingga seharian penuh, tanpa kabar atau minta izin ke manager. “What ar…, ani, kenapa kamu hanya mengenakan handuk? Tidak sadar ada laki-laki di sini?”

Eliz terkekeh. “Maaf, aku lupa mematikan kompor sebelum mandi. Begitu selesai aku baru ingat, jadi aku buru-buru berlari. Untung apinya kecil, jadi tidak terjadi apa-apa. Tapi, supnya asat.” Eliz merenggut.

“Masih memikirkan sup? Cepat pakai baju!”

“Iya, tuan besar.” Ia meledek tapi tetap berjalan menuju ruangannya, terkekeh melihat Key yang susah payah pura-pura tidak melihat. “Apa kepalamu sudah tidak pusing?” tanya Eliz sedikit berteriak dari kamarnya.

“Pusing?”

“Kau demam, sejak tadi siang aku sudah bisa lihat. Karena itu aku tidak membangunkanmu,” katanya kemudian mengancing kemejanya. “Aku sudah minta izin pada Jinki oppa tadi siang, aku juga membawakan sup untuk mereka. Jadi sekarang giliranmu yang makan, setelah itu kita minum obat.” Eliz kembali berjlaan menuju dapur, lengkap dengan piyama dan slippers boot berbulu kesayangannya.

“Aku tidak pernah suka piyamamu yang satu ini,”

Wae? It’s comfortable, nice, yet simple but sexy… aren’t it?” godanya.

Keronika! Terlalu terbuka, aku tidak suka. You giving me a hard time, you know? Kenapa juga ada yang jual piyama besar seperti itu? Tidak beda jauh dengan memakai kemeja orang gemuk.” Key mendumal. Sebenarnya baju tidur Eliz memang tidak jelek, motifnya kotak-kotak dengan perpaduan warna merah, hitam, dan biru. Lengan dan pundaknya sesuai dengan ukuran tubuh Eliz, tetapi panjangnya hingga menutupi setengah paha. Ini yang membuat Key tidak nyaman, hanya menutupi sedikit kaki gadisnya. Bayangkan jika Eliz sedang tidur, piyamanya tersingkap naik, tiba-tiba ada pencuri yang masuk. Bahaya kan?

“Ssstt! Ini waktunya makan malam, jadi jangan berisik! Duduk!” perintah Eliz galak, kemudian ia mulai menyiapkan makan malam untuk Key.

“Jangan coba-coba keluar dengan piyama ini, jangan juga membukakan pintu untuk tamu dengan piyama ini!”

“Key!”

“Bahaya! Bagaimana kalau ada yang berniat buruk? Aku tidak bisa membiarkan hal itu terjadi padamu, jadi jangan pakai baju seperti ini di depan orang lain!”

Eliz mendengus, “Astaga Kim Kibum, you really are something. Aku hanya akan pakai ini jika bersama mu, oke? Atau kalau belum puas, aku akan pakai celana ketat sampai lutut lain kali. Atau kau mau aku memakai celananya sekarang juga?”

“Tidak, sudah cukup. Ini terakhir kau hanya pakai piyama itu tanpa celana tambahan, oke? Janji?”

“Janji.” Key langsung tersenyum puas. “Ini supnya, selamat makan. Habiskan!” Eliz meletakkan mangkuk sup, beberapa potong dadu roti bakar, keripik kentang, dan satu botol saus tomat. “Kibuma, Exo kapan pindah apartement?”

Key mengangkat alisnya, “Mana aku tahu! Kalaupun aku tahu, aku tidak akan memberitahumu!”

“Wae?!”

“Kau ini sebenarnya kekasih siapa sih? Aku atau Exo?”

“Luhan,”

“YA!”

“Ah wae?! Aku juga suka SHINee, tapi aku lebih suka Luhan. Memangnya salah? Di SHINee, aku tidak bisa bebas memilih idola karena ada kau! Di Exo? Aaaahh.. aku bebas memilih siapa saja walaupun hatiku tetap untuk Luhan. Mereka semua tampan, lebih bersinar dari SHINee. Tapi Sehun dan Kai terlalu kecil untukku, heemm… tidak suka, tidak suka.”

“ISH!” Key menggeram kesal, berdiri tanpa aba-aba dan nyaris menumpahkan mangkuk supnya.

“Ya! Cepat duduk! Habiskan dulu supmu!” Eliz mulai mengomel, berusaha mengejar Key yang sudah lebih dulu berjalan menuju pintu. “Kembali! Lihat saja nanti, aku tidak akan memberimu makan lagi! Dasar menyebalkan!”

“Kau yang menyebalkan!” sahut Key keki sebelum akhirnya keluar dari apartement Eliz.

.::.

“Bagaimana reaksi Key?” tanya Yujin langsung begitu Eliz masuk ke ruangannya, sambil mengulurkan tangan, meraih gelas plastik berisi vanila latte pemberian sahabatnya.

“Baik, dia setuju. Luar biasa, never thought It’s gonna be this easy.”

Really? Di luar dugaan. Sepertinya kekasihmu itu memang banyak berubah, tidak sekejam dan semanja Kim Kibum yang kita kenal di SMA.” Hati-hati Yujin menyeruput minumannya, matanya menangkap ekspresi lesu pada wajah sahabatnya. “Why are you so sulky in this beautiful morning? Katanya beres?”

“Memangnya salah kalau aku menyukai Exo? Toh mereka satu agensi, Exo junior SHINee kan?”

Here we go…” Yujin mengumpat.

“Aku tahu terlalu sering kami bertengkar karena Exo, justru itu yang membuatku semakin kesal. Kau juga pasti sudah muak kan mendengar ceritanya? Kenapa sih ia harus cemburu sementara masih banyak gadis yang rela berbaris hingga mati hanya untuknya? Masa aku harus terus-terusan menggemari SHINee? Aku bosan. Aku sudah tahu luar dalamnya, dimataku SHINee bukan bintang. Hanya para lelaki tampan berbakat yang mencari uang dan kebetulan dapat penggemar, tahu tidak? Haduh ya ampun, kalau Key dengar kalimat yang terakhir aku bisa dipenggal.”

Sooner or later, this things gonna bring you down. Exo, Exo, Exo, bukan, Luhan, Luhan, Luhan. Kalau sebegitu menyukainya, kenapa tidak kau pacari saja? Kenapa malah kembali pada Kim Kibum mu itu?”

“Karena aku menikmati masa-masa ketika aku tidak memilikinya. Dengan Luhan, sangat menyenangkan ketika perasaanku bertepuk sebelah tangan seperti penggemar yang lain. Aku butuh Key, tidak tahu kenapa. Mungkin aku sedang kesurupan atau semacamnya sampai segitu depresi ketika tidak memilikinya, tapi malah tarik ulur saat memilikinya. Aku seperti memiliki sesuatu yang terikat padanya, membuatku tidak bisa melupakannya begitu saja.”

“Mungkin karena caramu putus dengan Luhan sama seperti caramu putus dengan Key dulu, karena menjadi trainer SM. Ralat, untuk Key, karena dia telah menjadi bintang baru SM saat itu. Sejak dulu aku penasaran, apa Luhan tahu kau pernah berpacaran dengan Key atau saat ini kau kembali berpacaran dengannya? Atau kebalikannya.”

“Tidak.”

“There it is!”

“Aku tidak mau mereka jadi canggung, maksudku, bukannya karena Luhan masih menyukaiku tapi karena kau tahu Kibum kan? Ia akan menghalangiku, ia akan membakar semua poster Exo dan foto-foto Luhan di kamarku. Lalu hubunganku dengan Luhan kandas begitu saja, bahkan tidak untuk sekedar saling menyapa. Yang paling parah, aku tidak akan bisa jadi penggemar Exo.” Sebenarnya sudah lama sekali Eliz dan Luhan tidak bertemu, rasanya bisa bertatap muka secara langsung saja begitu ajaib dan menyenangkan. Berkat kehadiran Key, Eliz terpaksa pura-pura tidak mengenal Luhan.

“Tapi kalau kelakuanmu seperti ini, aku pikir Key layak tahu dan layak melarangmu.”

“Kenapa kau berpihak padanya?”

“Bagiku, lebih baik kau pilih satu dari pada jadi plin plan seperti ini. Jika menurutmu satu tahun dengan Luhan lebih berarti dibanding satu tahun bersama Key, maka larilah padanya. Tidak usah menjerit-jerit karena Key meninggalkanmu, seperti dulu. Kemudian, setelah kau pilih satu, yang satunya akan jadi milikku.”

“YA!”

“Berkorbanlah untuk sahabatmu! Tidak lihat aku sudah menyendiri bertahun-tahun? Kapan terakhir kali aku pergi kencan? Aku mengorbankan masa mudaku untuk rumah produksi ini. Setidaknya, beri aku… laki-laki.”

Eliz terbahak. “Gila! Kau sedang kesurupan apa? Bisa-bisanya sutradara serta produser aktif bernama Yujin ini haus lelaki.”

“Aku juga permpuan!”

“Jangan berfikir tidak ada yang ingin berkencan denganmu, kau tidak tahu berapa banyak laki-laki yang berusaha mendekatimu melaluiku. Tapi, maaf… berakhir denganku.” Eliz tertawa lagi, sukses membuat mood Yujin ambruk. “Aku bercanda sayang, aku tidak pernah berkencan dengan laki-laki yang harusnya menjadi pasanganmu. Sudah banyak laki-laki yang meminta nomor ponselmu, sangat aneh melihatmu tidak juga mendapatkan satu. Jadi aku pikir kau sudah tidak suka laki-laki. Tapi sepertinya sudah jelas, kau terlalu tertutup membuat mereka menyerah di langkah pertama.” Eliz menjelaskan teorinya.

“Lantas?”

“Kau mau laki-laki yang berada satu bidang dengan kita seperti Kibum, atau laki-laki biasa?”

“Seriously?”

“Jangan pernah meragukanku! Aku akan menjodohkanmu dengan Jonghyun oppa.”

Yujin mendengus. “Ayo rapat, hari ini kau akan mulai bekerja.” Eliz memutar bola mata kemudian bangkit, segera berlalu menuju ruangannya yang berbeda dua lorong dari ruangan Yujin. Tidak banyak pegawai yang tahu soal Eliz meski gadis ini sering muncul di studio 2Ne, ia seperti pemilik terselubung.

“Selamat pagi semuanya, semoga pagi kalian menyenangkan.” Yujin tersenyum sebelum kembali berbicara. “Pagi ini, saya ingin memperkenalkan rekan saya secara resmi kepada Anda. Namanya Elizabeth Kwon, berdarah Korea-Inggris. Selama ini, seseorang dibalik lancarnya perjalanan 2Ne, terutama dari segi keuangan, adalah beliau. Ia merupakan sahabat saya sejak SMA, investor pertama 2Ne yang merupakan anak tunggal dari CW Group. Karena itu saya selalu mengambil alih setiap urusan yang melibatkan CW Group. Demikian dari saya, selebihnya akan ditambahkan oleh Elizabeth.”

Eliz mengangguk hormat sebelum mengambil alih posisi. “Perkenalkan, nama saya Elizabeth Kwon. Silahkan panggil saya Eliz, atau Abeth. Pengalaman saya belum banyak, selama ini hanya duduk santai di ruangan dan membuat Chae Yoo Jin mengerjakan segalanya. Mulai hari ini, saya akan bekerja sebagaimana semestinya. Jadi, saya mohon bantuannya.”

.::.

21, April 2007

“I am, doing my best.” Key menekan setiap kata. “While you just being a slut and keep bossing around,”

“Say it again and see what will happen next.” Eliz menajamkan tatapannya, saat ini ia benar-benar berjuang keras melawan hasrat bunuh-kibum-sekarang-juga.

“Maaf ya, harusnya sebelum menghakimi orang lain bercermin dulu! Kau pikir aku sama sekali tidak kerja dan hanya titip nilai? Tanya kepada yang lain siapa yang mendekorasi istana ini!”

“Oh well, bagus kalau ternyata kau volunteer mengerjakan dekorasi. But hey, that’s not your job. Jadi aku akan anggap kau tidak mengerjakan apa-apa,” tandas Eliz kemudian berlalu.

“You really are something,” umpat Key sebelum akhirnya meraih pergelangan Eliz dan menariknya kuat-kuat, mendorongnya menuju tembok terdekat. “Elizabeth Kwon, kau benar-benar ingin menumpahkan minyak di atas kobaran api rupanya.”

Eliz menelan ludah, ia tidak pernah mendengar suara seberat ini dari mulut Kim Kibum. Dan pelafalannya ketika menyebutkan nama lengkap Eliz, benar-benar membuat pikirannya hampir kehilangan fokus. “Lihat dirimu, terlalu banyak menonton drama televisi sepertinya.” Eliz mendengus.

“Oh, sepertinya bukan hanya aku yang menonton drama TV. Drama mana yang kau tonton? Pasti kau pernah melihat adegan seperti ini, jadi, apa yang akan terjadi selanjutnya?”

“Jangan salahkan aku jika harga dirimu akan tercoret. Just do what you gotta do, mengacam tidak pernah berguna.” Eliz menyeringai, namun dalam hati ia benar-benar gugup setengah mati. Bagaimana bisa harga diri nengendalikan dirinya, sementara Kibum bukan tipe orang yang akan berhenti di tengah jalan. Jika Kibum benar-benar melakukan hal yang ia lihat di drama, maka harga dirinya benar-benar terancam.

Key mendekatkan wajahnya, hingga Eliz bisa mendengar hembusan nafas yang begitu tenang dari Key. “Kau tahu,” ia mulai berbisik. “Seorang remaja lai-laki, bisa melakukan apapun kepada gadis sepertimu di ruangan seperti ini. Tentu kau belum ingin merasakannya, kan?” Eliz tahu hatinya sudah tidak tahan, melihat Key dari jarak sedekat ini semakin membuatnya yakin bahwa ia telah jatuh cinta pada laki-laki ini. Hatinya sudah menjerit ingin menyerah, tidak bisa lagi berada dalam jarak yang terlalu dekat seperti ini. Tetapi, tubuh dan otaknya melawan, matanya malah semakin menantang Key.

“Jika sudah selesai, tolong lepaskan tanganku.” Kalimat yang meluncur tanpa izin, membuat Eliz benar-benar ingin bunur diri. Sebuah sengiran terukir pada wajah Key sebelum wajahnya kembali mendekat, membuat hidung keduanya mulai bersentuhan. Key tersenyum puas ketika berhasil melihat tatapan Eliz goyah. Ia kembali menarik wajahnya menjauh, mengunci pandangan Eliz lekat-lekat.

“Dari sekian gadis di sekolah ini, you’re the only one who dared messing around with my head. Jadi beritahu aku, sejak kapan kau menyukaiku?”

Na?” Eliz mendengus, ia sendiri bahkan kagum dengan kecepatan reaksinya barusan. “Jangan bercanda,”

“Kenapa aku harus bercanda? Bukannya ini jelas? Sejak kita akhirnya sekelas, kau satu-satunya yang selalu berulah. Mencari alasan untuk selalu bertengkar denganku, agar kita bisa terus berinteraksi. Kalau gengsimu terlalu tinggi untuk mengakui itu, anggap saja kau jatuh cinta padaku karena dulu membenciku.”

Sialan! Kau benar-benar menyebalkan Kim Kibum. Kita lihat saja nanti, siapa yang akan menang.

“Benar-benar keras kepala ternyata. Kau yakin akan menang? Melawan Kim Kibum? Bukannya sangat mustahil? Atau janagn-jangan sejak tadi kau sudah bertanya-tanya dalam hati, kapan aku akan melaukannya. Iya?”

“Aku sudah muak. Lepaskan! Aku tidak punya waktu untuk meladeni kelakuanmu yang kekan—“ semua yang berada pada tubuh Eliz seketika berhenti, kecuali jantungnya yang justru semakin semangat bekerja. Untuk sekedar menelan ludah atau mengedip bahkan tidak bisa, apalagi mendorong tubuh Key jauh-jauh. Bibir Key tidak hanya berhasil mengunci mulut Eliz, tapi juga sekujur tubuh gadis ini.

“Lihat wajah itu, apa jantungmu rasanya seperti akan meledak? Itu artinya kau memang jatuh cinta padaku.” Key tersenyum penuh kemenangan, tapi otak Eliz berkerja lebih cepat dari dugaan.

“Love my ass!” benar-benar menantang Key untuk melakukan lebih.

.::.

Crap,” umpat Eliz reflek, ketika alat pengiris bawang tahu-tahu mengiris kuku dan sedikit daging di jemari telunjuknya. “Wah, daebak!” bukanya buru-buru melakukan pengobatan, Eliz malah sibuk terpukau dengan kukunya yang benar-benar teriris dan jatuh di antara irisan bawang putih. Beberapa iris bawang itu kini sukses berganti warna menjadi merah.

“YA! NEO WAEIRE?!” Key langsung menjerit histeris begitu melihat darah segar mengalir di jari Eliz. “Kenapa melamun? Bersihkan!” titah Key yang sudah sibuk mencari kotak P3K, dan mengambil potongan es batu.

“Memangnya tidak sakit? Sempat-sempatnya melamun,”

“Belum… nah nah, mulai sakit.” Eliz meringis begitu Key menempelkan es di atas lukanya. “Dingin,”

“Harusnya langsung diberi es sebelum darahnya banyak, duh!” Key mulai mengomel. “Apa yang kau pikirkan sih? Sampai-sampai bisa begini, lihat kukumu!”

“Tidak tahu, tiba-tiba teringat first-rape-kissmu.”

Ye? Apanya yang first-rape-kiss? Kau juga menikmatinya kan?”

Eliz mendengus. “Jelas-jelas kau yang termakan umpanmu sendiri. Gertakanmu tidak mempan dan akhirnya kau malah ketagihan kan? Aduh duh, appeo!” Eliz reflek memukul lengan Key ketika laki-laki itu melilitkan kapas dan plester.

“Iya, aku memang ketagihan. Tapi kau juga membalas kan?” Key melotot.

“A-a-a… anggap saja waktu itu aku kesurupan!” Eliz tergagap. Setelah adegan tempel bibir pertama itu, berkat kalimat Eliz yang tidak juga tunduk, Key terpancing untuk menciumnya lagi. Ralat, terpancing untuk melumat bibir gadis yang masih bisa mendongakkan kepala di saat seperti itu. “Amuteun, apa yang kau lakukan di sini? Bukannya masih marah?”

“Masih lah! Tapi karena aku laki-laki yang pengertian, aku akan memaafkanmu.” Key berjalan menuju sofa dan menjatuhkan tubuh di sana. “Lagi pula, aku harus memberi kesempatan kepadamu untuk hidup bebas. Sebelum menguncimu di rumah bersama pekerjaan ibu rumah tangga dan anak-anak kita.”

“Bicara apa kau?”

“Jadi, aku akan memperkenalkanmu pada Luhan hyeong agar kau bisa bebas foto bersamanya.” Mendengar kalimat Key barusan, Eliz malah menelan ludah, tegang. “Mana reaksimu? Harusnya kau menjerit senang dan memelukku, atau setidaknya bilang terima kasih!”

“Kau pasti bercanda,”

“Tidak. Aku sudah bilang kepada Luhan hyeong untuk meluangkan waktunya akhir pekan ini, dan dia setuju. Ini kesempatan langka, mereka sedang sibuk mempromosikan Wolf jadi kau jangan menghancurkan kesempatan ini. Aku, sebagai kekasihmu yang pengertian, memberikanmu episode ‘Date With Bias’ selama sehari. Tepuk tangan!”

.::TBC::.

Kamus Kecil:

  1. Ani/aniya (아니/아니야) ; tidak, bukan
  2. Nongdam (농담); lelucon
  3. Amuteun (아무튼) ; pokoknya, ngomong-ngomong
  4. Sajangnim (사장님) ; bos, presiden direktur
  5. Neo (너) ; Kamu, anda

Advertisements

2 thoughts on “[FF] Une Tasse de L’amore – Part 1

  1. ini keren laaann… mana lanjutannya????

    aku suka karena panjang ceritanya juga dapet banget feelnya.

    dan lagi key cocok banget karakternya begini..

    ditunggu lanjutannya ya lan 🙂

    1. SERIUSAN? BOHONG AAAAAAAAAHHH
      BOHONGGGGGG /padahalbahagiasetengahmampus

      aku takut ini ff kacangan banget
      aku mau ngelanjutin jadi mood-moodan
      baru part 3 lagi hahahha

      beneran nih bakalan baca lanjutannya?
      awas kalo enggak! *ngahsah pisau*
      eekeke
      makasih eonnie udah mampir *kecupbasah*

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s