[FF] Pink Polaroid

tumblr_monl88ALns1sqohnco2_500

PINK POLAROID

If I knew at that very moment you give me this instant camera, that my heart was captured in your hand.

—Silver

.::.

Lantunan lagu Dreaming With A Broken Heart milik John Mayer memenuhi ruangan sunyi yang tak seberapa besar, tempat seorang gadis tengah sibuk membolak-balikan halaman album foto dan seorang lelaki yang asik menyibukkan diri dengan botol-botol penyedap rasa. Alisnya sesekali terangkat, matanya berkutat lama di setiap halaman, menikmati setiap elemen yang tercipta di lembarnya. Meski matahari sudah lama berganti posisi dengan bulan, yang kini sudah naik lumayan tinggi, keduanya tak juga merasa perlu memisahkan diri.

“Kadang aku bingung,”

Suara gadis itu akhirnya setelah setengah jam saling diam.

“Kenapa hot guy hanya ditakdirkan untuk hot girl?” matanya masih serius menilik tiap inci gambar pada lembar terakhir, tapi kemudian ia mengalihkan perhatiannya tatkala mendengar suara kekehan.

“Kupikir kau akan berkomentar soal lagunya,” sahut Lay sambil meniriskan pasta di atas wadah.

“Aku membicarakan penyanyinya.”

“Kau berharap John Mayer mendapatkan pasangan hidup yang tidak secantik Katy Perry atau dirimu?”

Not really,” katanya sambil menutup album yang berisi gambar-gambar kenangan paling keren milik Lay, tangannya kemudian meraih album lain.

“Lantas? Apa motifmu bertanya demikian? Merasa tuhan atau semesta tidak adil?” gadis itu tidak menjawab, konsenterasinya sudah terarah penuh pada gambar baru yang tersuguh di depan matanya.

“Kau yakin ini bukan hasil karyamu?”

“Harus kubilang berapa kali? Aku tak punya bakat soal fotografi, itu semua potret milik pamanku ketika kemarin ke Florida.”

Keduanya kembali tenggelam dalam kesunyian, bukan sebuah kesunyian yang canggung tapi justru nyaman. Ketika intensitas pertemuan mereka semakin tinggi, hubungan mereka menjadi kian dekat dan akrab. Kata-kata menjadi tidak perlu, hanya dengan bahasa tubuh rasanya segala pesan sudah tersampaikan.

“Ayo makan.”

Aroma pasta otomatis memenuhi ruangan, mengundang cacing-cacing perut untuk menjerit meski jam menunjukkan pukul sembilan malam. Bukan masalah, bagi Silver atau Lay, makan lebih malam sudah menjadi kebiasaan. Gadis dengan rambut emas kecoklatan ini nyaris tidak peduli soal urusan perut, memberi tugas baru bagi Lay–si entah siapanya—untuk selalu memaksa Silver mampir ke rumahnya agar ia bisa melihat gadis ini melahap masakannya.

Tidak ada kegiatan yang mereka lakukan ketika bertemu selain menyesap kopi, mengambil gambar, melihat foto profesional atau sekedar mendengarkan—lebih tepat dibilang, memaksa—Lay bernyanyi hingga suaranya serak. Lay bukan orang yang suka atau mengerti soal fotografi, ia juga kurang tertarik.

Tidak seperti Silver yang seolah dilahirkan hanya untuk mengabadikan keindahan alam, dan menyebarluaskan keindahan itu melalui gabungan elemen warna dalam selembar kertas bernama foto. Tapi tak lantas menutup kemungkinan bagi keduanya untuk berteman, setidaknya itu yang Lay pikirkan ketika pertama bertemu gadis bermata biru dengan rambut indah itu 10 bulan lalu.

.::.

“Kau suka fotografi?” Lay memulai pembicaraan dengan pertanyaan, yang ia tidak peduli, basi. Sudah jelas gadis di hadapannya menggenggam kamera digital SLR dengan lensa, yang dari jauh saja, terlihat berat dan besar. Siapa yang mau membawa kamera dengan lensa sebesar itu di tengah panas terik matahari, jika ia bukannya penyuka fotografi?

“Kurang lebih,” sahutnya tak acuh, sebenarnya ramah. Lay mengerutkan alis, memandangi gadis itu dari ujung kepala hingga ujung kaki. Bukannya memotret dengan kacamata hitam menghalangi pandangan, hanya bisa keren kalau seseorang itu sudah ahli? Maksudnya, siapa sih yang betah membidik lewat lubang kecil ditambah terhalang kacamata yang setidaknya membuat jarak pandangnya merugi?

“Sepertinya kau sangat ahli.” Lay berucap asal, ia hanya tertarik dengan penampilan gadis ini. Topi kupluk merah yang benar-benar membungkus kepalanya seperti orang kangker itu, benar-benar membuat Lay jadi gerah. Ia memang memakai cropped tee warna putih yang menjamin bisa memantulkan cahaya, dan skinny jeans merah terang yang entah kenapa menyilaukan mata. Tapi membungkus kepala dengan topi seperti itu bukannya benar-benar gerah?

“Tidak juga, kenapa berpikir begitu?” ia berhenti membidik objek-objek yang terhampar indah di depan keduanya, berjalan ke arah Lay kemudian duduk tak jauh darinya. “Sepertinya kau justru orang ahli,” katanya setengah mendengus.

Lay jadi tersenyum, tebakannya meleset sedikit. Dari penampilannya gadis ini terlihat congkak dan tough, siapa sangka ia sebenarnya ringkih dan asik. “Aku hanya sedang menenangkan pikiran.” Lay menyandarkan dagunya pada badan gitar, memainkan dawai-dawai yang siap melukai jemari para pemula.

“Siapa namamu?” tanya gadis itu tak acuh, matanya sibuk melihat hasil bidikan di kameranya.

“Zhang Yixing, panggil aku Lay. Biasanya aku tidak memberitahu nama asliku, tapi kau pengecualian.” Gadis itu mendengus kemudian terkekeh. “Kau bisa memotret walau terhalang kacamata hitam?” tanya Lay penasaran sambil merogoh ranselnya.

“Aku sudah biasa,” katanya, baru berniat mengambil gambar baru ketika sebuah kilat nyaris tak terlihat, terarah padanya. “Apa yang kau lakukan?”

“Memotret.” Lay menyahut pasif sambil meniup kertas fotonya. “Rasanya mengetahui nama dan umurmu lebih baik.”

“22 atau 23, aku lupa tepatnya berapa. Silver,” jawabnya dengan kening berkerut, tidak bisa melepaskan matanya dari kamera unik milik Lay,

“Apanya?”

“Namaku, Silver.”

“Keren. Ini untukmu,”

Silver mendelik tidak percaya, laki-laki yang baru ia kenal beberapa detik lalu ini menyerahkan kamera Polaroid 600 warna pink-abu yang rasanya sudah langka. Dia pasti punya kelainan.

“Biasanya aku tidak suka pink, tapi kau pengecualian,”

.::.

“Kau tidak bawa tali yang biasa kalian sebut jepit, ikat rambut atau semacam itu?” Lay risih, walaupun ia senang Silver akhirnya memanjangkan rambut, tapi gadis ini seolah tidak peduli dengan rambutnya yang sering kali menghalangi pandangan. Sadar Silver tidak akan menjawab hingga ia melepaskan pandangan dari foto itu, Lay bergerak untuk merogoh tas gadis itu.

“Kapan-kapan kita harus ke Everglades bersama,” gumamnya sambil membalik halaman berikutnya.

“Ya, kapan-kapan.” Lay menangkup rambut emas kecoklatan milik Silver dan mulai menyisirnya dengan jemari, kemudian menggelung rambut sepanjang dada itu dan mengamankannya dengan sumpit. “Sekarang, ayo kita makan!”

“Aaaahhh!!” Silver otomatis mengeluh begitu Lay merampas album tersebut. “Kenapa dimatikan?!” Silver kembali protes saat Lay mematikan alunan lagu yang memperdengarkan suaranya. “Aku mau dengar!” ia kemudian merebut remote dari tangan Lay dan kembali menekan tombol play. “Ini lagu baru?”

“Tidak juga,” sahutnya sedikit malu. “Matikan, kita makan dulu.” Sebenarnya bukan pertama kali Silver mendengar lagu buatan Lay yang ia rekam untuk koleksinya sendiri, tapi ia tetap merasa malu.

“Kau lebih memilih bernyanyi langsung untukku?” Silver mengangkat alis dan menyeringai, tangannya meraih piring berisi pasta buatan Lay.

“Tidak.”

“Ini apa?!” pekik Silver kaget begitu melihat pasta miliknya. Baru kali ini ia melihat pasta berisi brokoli, wortel, dan sosis.

“Pasta fettuccine ala kadarnya,”

“Bicara apa kau ini?”

“Aku kehabisan beef, dan jamurnya tinggal sedikit. Kebetulan masih ada brokoli, wortel, dan sosis, jadi aku masukkan. Jangan memandangnya seolah itu mengandung racun, aku terlalu berbakat untuk membuatmu muntah.” Silver tertawa geli, tidak percaya laki-laki di depannya bisa se-PD itu.

Tanpa bicara lagi Silver mulai menggulung pasta pada garpunya, matanya mengedar, mengamati setiap inchi apartemen milik Lay. Ia tidak pernah mengerti, apa yang membuatnya selalu berakhir di tempat ini setiap hari libur. Rasanya setahun lalu, ia tidak pernah keluar dari rumah kecuali untuk ke kantor atau mengambil gambar baru. Tapi sekarang ia justru jarang menghabiskan waktu di rumah, dan malah mengusik ketenangan Lay di apartemennya. Pikirannya terlalu asik melayang-layang hingga tak sadar Lay mengajaknya bicara dan bersandar pada bahunya, memainkan kamera yang dulu pernah jadi miliknya.

“Kau bilang apa?” tanya Silver akhirnya ketika mulai merasakan berat di bahunya.

“Kenapa kau suka sekali nonton Friends, Big Bang Theory, dan Two and A Half Man?”

“I don’t know, it’s just awe me to see how amazing their friendships are. Not even scare to look ugly or being awkward with each other. I never had someone like that… not before I met you.”

.::.

Hallo, Silver?” sapa Lay semangat.

No. I’m Jill, her sister. Who are you?”

 “Oohh… Lay,”

“Oh, Lay! Silver sedang tidak enak badan, mungkin kau baru bisa bicara dengannya nanti sore.”

“Ia sedang demam? Sejak kapan? Ia sudah makan? Apa aku boleh ke sana?”

Terdengar suara tawa Jill. “Calm down, she’s alright. Aku sudah memberikan obat pagi ini, katanya mungkin karena terlalu lelah. Dan tentu saja kau boleh main kemari, kebetulan aku harus pergi kerja siang ini. Aman kan menitipkannya padamu?”

“Ya, tentu saja. Aku akan menjaganya hingga kau pulang, atau hingga ia benar-benar sembuh dan bisa kembali kerja.”

“Tak usah repot-repot, Lay. Kalau begitu aku tunggu kau siang ini ya,”

Lay segera memutuskan panggilan dan bergegas mencari bahan makanan, Ia harus membuatkan sup untuk Silver. Mungkin Silver punya bahan-bahan di rumahnya, tapi Lay tentu tidak akan merasa nyaman menggunakan peralatan masak dan bahan makanan milik orang lain. Ia kemudian mulai memotong sayur dan sosis, merebus air, dan memasak nasi. Hari ini ia akan bertemu Jill untuk pertama kalinya, kakak Silver itu baru saja datang akhir bulan lalu. Dan ini juga akan jadi pengalaman pertamanya masuk ke rumah Silver, biasanya ia hanya sekedar mengantar hingga depan rumah.

Laki-laki ini baru akan menekan bel ketika pintu rumahnya tahu-tahu terbuka. “Oh… you must be Lay, come in. You come on time,” sapa Jill ramah. Berbeda dari Silver yang seolah terlihat tidak bersahabat, wajah Jill lebih ramah dan percaya diri. Jika bukan karena Lay, adik Jill jelas akan terus menutupi rambutnya hingga tua atau terus menggunakan kacamata hitam demi menutupi warna iris-nya yang indah.

“Salam kenal sebelumnya,”

Jill tertawa. “Tidak usah terlalu kaku denganku, lagi, aku sudah mendengar tentangmu. Setidaknya aku tahu seperti apa perawakanmu, dan sifatmu, seperti makanan yang kau bawa itu.” Lay otomatis menunduk malu. “Aku sudah tahu kau pasti akan membawakan makanan dan obat-obatan, jadi aku sama sekali tidak khawatir. Sejak mendengar namamu, aku jadi tidak takut walaupun bulan depan aku akan kembali ke Leukerbad.” Jill bicara tanpa berhenti bergerak, ia sibuk berkeliling sambil menyiapkan apa yang harus ia bawa ke kantor.

“Apa aku boleh pinjam mangkuk?” Lay bergumam pelan, sedikit malu.

Of course, honey. Ambil saja di kabin atas, kalau kau perlu sesuatu jangan sungkan untuk mengambilnya. Anggap saja rumah sendiri, tinggal lah dengan nyaman. Aku akan pamitan dulu dengan Silver.” Jill berjalan menuju kamar Silver, tempat gadis itu meringkuk di bawah selimut tebal. “Silver, honey, I’m going to my office. Please get well soon, if you need something just call Lay.” Ia segera mengecup kening Silver, sementara gadis itu hanya bergumam tak jelas.

“Aku pergi dulu, baik-baik di rumah.” Lay mengerjap kaget ketika Jill tahu-tahu mengecup pipinya. “Apa kau baik-baik saja?” tanya Jill dengan alis berkerut ketika melihat wajah Lay menegang.

“Aku.baik.baik.saja. Hati.hati.di.jalan.” Sebenarnya Jill ingin sekali tertawa ketika mengerti ada apa dengan anak itu.

“Omong-omong, ternyata kau lebih tampan dari bayanganku. Walaupun kau juga tampan di fotomu, melihat langsung benar-benar lebih tinggi dari ekspektasiku. Aku serius,” katanya sebelum akhirnya berlalu dan pergi menuju kantor.

“Oh my dear god!” sebuah suara parau mengejutkan Lay dari aktifitasnya, ia menoleh kaget dan menemukan Silver tengah bersandar pada pintu dengan wajah kusut. “What are you doing?! You shouldn’t be here!” sebenarnya untuk berdiri saja kepalanya sudah pening bukan main, tapi ia susah payah tampil kuat.

“Kau sudah sarapan? Aku bawa sup.” Lay mulai membuka tempat makan dan membiarkan uapnya keluar.

“Zhang Yi Xing, hari ini itu hari kerja dan mestinya kau berada di kantor! Bukannya berada di sini dan melakukan hal tidak penting seperti ini.” Silver tidak habis pikir, bagaimana bisa Lay semudah itu bolos kerja.

“Hush, you better keep your mouth shut and enjoy my special soup!”

.::.

“Jadi, kau berpikir pertemanan kita ini berharga?”

“Tidak juga, it depens on how you behave.”

“Maksudmu?” Lay menegapkan tubuh, kini sejajar dengan Silver yang duduk tegap sambil sesekali menunduk untuk memasukan gulungan pasta ke mulutnya. Sekali lagi, tahu Silver tidak minat menyahut, Lay tidak ambil pusing. Hanya satu tahun, Lay bisa mengetahui watak Silver dan segala tentangnya. Silver yang sering enggan menyahut, atau Silver yang sering hilang fokus ketika bicara. Tapi yang sudah pasti ia lakukan tanpa absen adalah, mengubah topik pembicaraan dan membiarkan kalimat-kalimatnya menggantung.

 Tapi laki-laki ini tidak pernah tahu, ada tatapan penuh tekanan dalam manik mata gadis ini ketika menatapnya. Sebuah tatapan yang berusaha menyampaikan pesannya. Lay tidak pernah tahu, apa yang Silver pikirkan tentang dirinya. Ia bukan sekedar teman, jika ditanya apa yang paling berharga bagi Silver, Lay. Laki-laki ini jauh lebih berharga dari kamera klasik milik kakeknya yang sudah berumur puluhan tahun, atau kamera termahalnya yang ia beli dengan uang sendiri.

“Aku dilamar.” Silver bergumam tiba-tiba, pelan dan lesu, namun Lay tetap waspada. “Aku harus apa?” ia mengalungkan lengan kanannya di tengkuk Lay, kemudian menggunakan punggung tangan kiri untuk menopang dagunya di bahu kiri Lay. Matanya menelisik setiap helai rambut Lay, ia begitu menyukai rambut hitam milik Lay, hingga selalu tak kuasa untuk bermain dengan helai-helai rambut tebal miliknya.

Namun di saat bersamaan, Lay terpukau, rasa gugupnya tiba-tiba luntur. Hanya Silver, hanya gadis ini yang mampu menghembuskan udara di lehernya tanpa membuatnya geli setengah mati. Baru kali ini ia merasa seolah kebas. “Steven Cho?” Lay menyebut nama seorang laki-laki yang notabene manajer divisi Silver, dan tergila-gila padanya. Gadis itu menghela napas, meniupkan lebih banyak angin pada lehernya, tapi tak kunjung mengundang rasa geli untuk menyerangnya.

“Handsome, a cool gentleman, but cute at the same time.”

“Siapa?”

“Zhang Yixing, biasanya aku panggil dia Lay.”

Lay terbahak, “Terima kasih, kau menambah koleksi pujianku.” Silver memukul pundak Lay sebal sebelum akhirnya berdiri untuk mencuci piring. Matanya tak bisa lepas dari punggung gadis itu, sesuatu memikatnya. Ketika pertama kali melihat punggung itu, seolah berkata bahwa ia seorang gadis yang tidak diinginkan oleh siapapun dan terasingkan. Rambutnya yang berbeda, irisnya yang yang berwarna terang, membuatnya minder. Kala itu, Lay bertekad untuk membuat gadis ini merasa diinginkan dan dibutuhkan. Tapi ia justru jatuh cinta, dan terjebak dalam zona paling mematikan.

“Steven laki-laki sukses, apa yang membuatmu ragu?” tanya Lay getir, matanya menatap kosong layar televisi.

“Aku tidak mencintainya, sweetie. Mungkin rasa itu bisa tumbuh pelan-pelan, tapi aku tak berminat. Seperti katamu dulu, sebuah kamera Polaroid bahkan butuh pasangan yang tepat untuk menyempurnakan diri. Manusia juga demikian. Mr.Steven not even close to my Mr.Right, kenapa aku harus memaksakan diri?”

.::.

“Sebenarnya Polaroid lebih bersahabat bagi para amatir,” kata Silver kemudian menyesap latte-nya.

“Bagi mereka yang mau mudah, dan gaya.” Lay mengoreksi. “Menurutku, Polaroid justru lebih cocok untuk para ahli. Camera digital bisa menghasilkan gambar sempurna meski yang membidik tidak punya ilmu fotografi, atau setidaknya kita bisa mengubah gambarnya melalui perangkat digital lain yang mendukung. Tapi Polaroid, kau bahkan tidak bisa melihat hasil bidikanmu atau memilih yang mana harus dicetak. Isinya mahal, jadi semakin sayang jika yang menggunakan tak punya seni dan tak punya cukup uang untuk beli isinya.”

Silver terkekeh pelan. “Benar juga,”

“Dan lagi, warnanya pink… walaupun laki-laki boleh pakai pink tapi konotasinya berubah.” Sekali lagi Silver mengangguk setuju sambil tertawa pelan. “Selama aku memiliki Polaroid itu, aku sibuk mencari siapa pemilik yang pantas mendapatkannya. Seseorang yang bisa membuat kolaborasi luar biasa dengan kamera instan ini.”

“Dan kau langsung menunjukku tanpa pikir panjang, padahal waktu itu kita baru kenal? Luar biasa.”

“Kau punya sesuatu yang orang tidak bisa tampilkan pada pertemuan pertama, dan kameraku sudah ribut meneriakkan kau pasangan yang tepat untuknya.” Kali ini keduanya terbahak. Silver tak pernah mengerti dengan jalan pikiran Lay yang kadang begitu sederhana dan polos, tapi selalu bisa mengendalikan orang lain secara halus.

.::.

“Memangnya kau punya alasan kuat untuk menolak atasanmu?” Silver mendesah lesu, kembali berjalan ke tempatnya semula dan kali ini gantian bersandar di bahu Lay.

“Ada seseorang yang sudah mencuri hatiku sejak lama, tapi ia sepertinya tidak melihatku dengan cara yang sama. Wanita… hanya bisa menunggu dipilih.”

“Bukannya sekarang sudah ada kesetaraan derajat antara laki-laki dan perempuan? Kenapa kau tak nyatakan duluan? Siapa tahu ia akhirnya melirikmu dan mulai merasakan hal yang sama.” Lay menyarankan, dalam hati menyesal karena salah ucap. Tapi jika laki-laki itu orang baik, Lay rela melepaskan Silver untuknya.

“Tidak terkesan aggressive memangnya?”

“Eemm… aku kurang tahu juga. Belum pernah ada perempuan yang menyatakan cinta padaku.” Silver tiba-tiba merangkak, meraih Polaroid pink-nya yang tergeletak tak jauh dari kaki Lay.

“Ayo foto berdua,”

“Kita sudah banyak foto berdua, lihat itu!” Lay menunjuk tali yang menjuntai di atas TV-nya. Tali tersebut sudah terlihat sesak akibat terlalu banyak foto yang mereka jepit di sana. “Di rumahmu juga sudah banyak. Memangnya kau tidak bosan melihat wajahku?” Lay tahu-tahu merasa geram pada dirinya yang bersikap seperti pengecut. Pura-pura menolak padahal dalam hati benar-benar menginginkannya.

“Kita tidak punya foto sebagai kekasih,”

“Maksudnya?”

“Ini untuk tameng, kalau-kalau Mr.Steven semakin getol mengejarku.” Silver menyahut santai sambil memeriksa isinya. “Masih ada dua, cium pipiku!” Lay susah payah menelan ludah, masih setengah terkejut. Tiba-tiba ia bisa mendengar suara detak jantungnya. “Cepat! Tanganku pegal.” titah Silver sekali lagi.

Ia sudah terbiasa dengan kebiasaan Jill dan Silver yang selalu mengecup pipinya ketika bertemu atau berpisah, tapi ia belum pernah sekali pun mengecup pipi gadis ini. Setelah menarik nafas panjang, Lay mengumpulkan nyali dan berusaha mengecup senatural mungkin.

“Lay,” ia reflek menjauhkan wajahnya ketika Silver tahu-tahu menoleh padanya. “Kau tidak pernah berhubungan dengan perempuan atau bagaimana sih? Masa hanya mengecup pipi segitu gugupnya?” Silver setengah meledek, sebenarnya ia ingin terbahak sejak tadi ketika mendengar Lay berusaha mengatur napas. “Pasti kaku, gantian! Kau pegang kameranya, aku yang mencium.”

Lay menurut, ia segera meraih kamera tersebut setelah menyelipkan kertas foto yang masih hitam itu di bagian tengah buku musiknya. “Setinggi ini?”

“Jangan! Sejajar saja.” Lay menurunkan lengannya, matanya terfokus pada lensa. Kali ini gantian Silver yang gugup, bukan karena melihat wajah Lay dari jarak sedekat ini. “Satu, dua—“

“Lay!”

Ia reflek menoleh pada Silver. Terjadi dalam rentan waktu kurang dari satu detik. Jempol Lay menekan tombol bidik bersamaan dengan bibir Silver yang merekat sepenuhnya pada bibirnya. Sinar blitz otomatis membuat Lay memejamkan mata, tapi masih dalam keterkejutannya gadis itu sudah menjauh.

“Kau harus beli isi yang baru kalau foto terakhir ini gagal!” Silver berseru seolah-olah tidak ada yang terjadi barusan, walaupun sebenarnya ia seperti ingin meledak. “Ada apa denganmu?”

“Apa yang kita lakukan barusan?” tanya Lay masih dalam ketidakpercayaan.

“Pressed my lips against yours, or you can say it’s a kiss,”

“Aku tidak mengerti, maksudku—“

“Kau tidak perlu mengerti,” potong Silver. “Since this camera is mine, then I’m yours.”

Butuh waktu beberapa menit bagi Lay untuk menyatukan kalimat-kalimat Silver di kepalanya, dan mengaitkannya dengan kejadian tadi. Kemudian seulas senyum tersungging di wajahnya, memamerkan lesung pipi kecilnya.

“Mestinya yang tadi tidak bisa di bilang a kiss, ini baru ciuman.”

Silver memejamkan matanya rapat-rapat, susah payah mengulum senyum. Sejurus kemudian ia sudah terbawa suasana menikmati setiap detik dan setiap gerakan bibir Lay yang ia rasakan.

Jika aku tahu kita memiliki pandangan yang sama sejak awal, aku tak akan menghabiskan isi Polaroid-ku dengan foto-foto sok akrab kita. Instead, I will just kiss you or cuddling in your arm like an annoying cat in every photo of us. If I knew at that very moment you give me this instant camera, that my heart was captured in your hand. I wouldn’t spend my day, worried that you will leave me someday for another girl. But this is just a perfect timming. Aku mencintaimu, Zhang Yixing. Dengan segala keindahan alam, aku akhirnya membingkaimu.

Your Girl,

Silver yang kembali berkilau karenamu

Bahasa inggrisnya masih berantakan? Koreksi aja :), feel-nya gak kena? Maklum aja. Kenapa pake Lay? Dia suami saya! Kekeke~

//

Advertisements

10 thoughts on “[FF] Pink Polaroid

  1. Lan.. bahasa lo udh tingkat dewa ya sekarang wkwkwk. Gw mau komen tp gatau apa yg harus gw komenin.. gw gatau mau blg apa lg selain bagus -___-

    1. Gabbbbyyyyy xD
      ngakakakka, gue gak nyangka lo ninggalin komen gab
      btw, yg lo kasih tahu lewat line itu udah gue edit. Doesn’t make any difference sih, tapi setidaknya… yaa.. u know laahh

  2. bwahahahaha, harusnya romantis, emang romantis sih. Tapi kok pas udah bacanya ngakak nyembur yah, abis terlalu ngayalin muka begonya lay dan gimana ekspresinya pas dia harus ngecup Silver

    1. KAK BIBAAAHHHHHH!!!
      Iiiihh kok pake mampir siihh
      pake baca ff ku segala pula
      kan maluuuuu AAAAAAAAAAAAAAA
      OTL huuufftt~

      aku aja nulisnya bingung mau bikin mukanya lay keliatan bego, malu, apa sharp hahaha~
      btw, ini ff kurang konflik dan gak ada klimaks nya tauu.. aku jadi malu nih karna kak bibah baca ._.a

      anyway.. girang juga sih dirimu mau komen padahal aku cuma mampir dan komen ke fla AKAKAKAKAK~ *taboklana

  3. Wah, satu lagi ide cerita yg sebenernya ringan tapi dijabarkan dengan apik dan manis. Suka deh ❤

    dannn..aku juga senang kamu memilih pair cew buat lay adl tokoh asing, pas dgn karakternya yg kamu ciptakan. Aku bisa bayangin betapa ridiculousnya kalo silver ini adl cew korea.
    Tapi aku masih ngerasa sedikit terganggu nih sama perpindahan scenenya yg rada monoton. Entahlah…aku ngarepnya ada lbh banyak narasi atau deskripsi di setiap perpindahan adegannya, biar gak didominasi dr dialog ke dialog aja (terutama di saat di fic ini cuma ada lay dan silver sbg tokoh central)

    kayaknya itu aja dariku deh, ditungguin ya karya'' kerenmu yg lainnya 🙂
    semangat, lana ❤

    1. wuaaaaaaaaaaaaahhh akhirnya di baca
      omaigaaaaattt komennya panjang kaliiii *O*
      srsly dis is totally amazing wuaaaaahhh~ *lebe*

      terima kasiiiihhh aku lebih suka kalau kakak suka hehehe. tapi sepertinya masih butuh pembelajaran lebih lanjut soal teknik penjabaran ceritanya

      somehow, aku gak ngerasa cewe korea pas buat ff ini emang ._. untung gak maksa cewe korea yaa *fiuuh

      oh gitu yaaaa.. kupikir akan ngebosenin banget kalau terlalu banyak narasi gitu. dan aku masih payah banget deh soal narasi kak
      hheemm.. berarti next time, aku harus lebih banyak narasi ya karena di sini memang cuma ada lay & silver sebagai sorotannya. baru sadar aku sama sekali enggak memasukan figuran atau semacamnya *O*

      oke deeeehhh ^O^
      eh tapi kayaknya aku masih jauh dari kata keren kak… yaa semoga selanjutnya aku bisa nulis yang lebih baik hohoho
      iyap ^O^ makasih banyak kakaaaa 😀 *smooch*

  4. Lanaaaaaaaaaaa lama tak bersuaaaa(?) entah dirimu masih ingat pada diriku ato engga.. wkwk

    aku baru tau kamu punya blog baru lan, nemu di blog nya echi eon kalo gak salah dan yang aku cari duluan FF nya hoho….

    aku mau bacanya yg SHINee tapi pas liat judul pink polaroid ini ya aku iseng2 baca awalnya masih penasaran ini cerita mau gimana dan sempat bingung juga dengan scene2 nya tapi setelah baca.. baca… baca… dan baca…. akhirnyaaaaa seru juga ternyata

    apalagi endingnyaaa aku suka bangetttttt
    sweet……

    lan, aku tunggu ff shinee nya yaaaa hoho

    1. Tunggu tunggu… iya aku kenal nisa
      tapi… NISA YANG MANA INIIIIIIIIIIIIIIIII
      OH MY GAOOOOOOOODDDDDD
      KA NISA NYA MAMI MINCHA YAAAAAAAAA??? *heboh*
      ahahhahah gilaaaaaaa eonnie apa kabaaaarrrr???

      iya xD waktu kemaren nunggu masuk kuliah aku bosen banget, jadi bikin blog pribadi baru deh hwohoho

      aku belum nulis ff shinee sih ._. lagi mampet ekeke
      hihi seru? seriusan? *blush*

      Oke deeeehh ekeke~
      Makasih eonnie udah mau mampiiiirr
      aku jadi malu nih xDD

  5. Ya.. saya makin jatuh cinta sama Yixing.. dari semua penulis yg nulis ff fluf cast.nya yixing baru ini yg pas..
    ringan, enak dicerna..
    padahal dimata aku yixing keliatan rapuh, dingin, gloomy dan dark.. ekspektasiku jadi berubah ke yixing yang manis, caring, ceria..

    Lana-sshi, banyakin Bikin Yixing yak..

    1. Ooohh aku juga… sedang cinta cintanya sama si pria berlesung pipi manis ini
      Hah? Seriusan? Ah bercanda kali kamuuu jejeje~
      aku jadi malu nih xD
      hah? Sebentar…. rapuh, dingin, gloomy dan dark? Seriusan? DI otakku… Yixing itu super manis dan hangat loh *O*

      hahah sedang mencoba Aishita-shi
      ❤ ❤
      terima kasih sudah mampiiirrr

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s