[Ficlet] Rose

Rose

 tumblr_mhaszmRjYS1rxjqioo1_500_large

“Every rose has its thorn

–          Lee Hi, Rose.

Letukan hujan pada jendela kaca terdengar tebal-tipis, kadang terdengar keras ketika angin berhembus kemudian kembali menipis. Siapa yang tak suka hujan? Relatif. Setiap orang punya sejuta alasan untuk benci hujan. Tapi di sisi lain, mereka punya ribuan alasan untuk cinta hujan. Dan lelaki jangkung ini selalu suka, untuk alasan yang tak bisa ia bagi. Kakinya melangkah jenjang, suara gesekan sandal rumahnya dengan marmer teredam sepenuhnya oleh suara hujan.

Senyumnya mengembang, memandangi tiap lekuk pada wajah yang tengah terlelap, bersandar pada jendela besar yang terasa lebih dingin sore itu. Jemari kurusnya perlahan bergerak, menyentuh gambar pada leher gadis itu. Wajahnya bergerak mendekat, memberi kecupan pada setangkai mawar yang setiap durinya telah menorehkan luka.

-ooOoo-

“Double shit.” Seorang gadis mendesis kesal, bukannya ia tak suka hujan hanya saja ia tak bawa payung. Dan hujannya, kini, terlalu deras untuk nekat berlari. Urusan adaptasinya sudah cukup menjengkelkan hari ini, dan waktunya yang terbuang sia-sia semakin membuat kepalanya sakit. Ia bukan orang yang memeprmasalahkan hal kecil, entah, sebut saja hari ini ia sedang sensitif. Ia memejamkan mata, tak ingin melihat tatapan menyebalkan orang-orang terhadap dirinya. Ia tak punya salah apapun, selain tampilan layaknya lesbian—jika kau sebut itu sebagai suatu kesalahan, tapi orang-orang masih kolot dan suka mengintimidasi orang lain melalui persepsi-sok-benar mereka.

“Shit day, huh?” ia malas membuka mata, tak mau dan tak ingin tahu siapa laki-laki yang duduk di sebelahnya. Ia malas berurusan dengan laki-laki brengsek yang katanya berusaha-membuat-si-lesbi-jadi-lurus. Ia bukan seorang lesbian, dan lagi, apakah seorang lesbian merupakan dosa paling nista di dunia? Ada apa dengan mereka? Memandang LGBT sebelah mata seolah mereka sudah lebih benar dari kaum itu.

“You better run, before i turn you into a gay.” Sekali lagi ia mendesis, lebih berat dan lebih tajam.

“Really? Kalau tahu kau akan bersikap menyebalkan meski aku memberimu tempat duduk pagi ini, aku tak akan melakukannya.”

Ia baru mengenali suara itu, suara berat dengan aksen bicara unik. Si jangkung berwajah bak pangeran dari negeri dongeng, dengan senyum yang bisa meruntuhkan dunia orang lain. “Sorry,” ujarnya setengah hati, katakan saja ia terlalu gengsi untuk mengakui kesalahannya, lantas ia membuka mata.

“Aku tak punya jaket, hari ini juga hanya pakai kemeja tipis, dan aku tak bawa payung.”

Ia reflek tersenyum. “That’s okay, tak ada yang memintamu untuk melakukan adegan-adegan sok natural dalam drama televisi. I’m fine, seriously ok.”

 Keduanya terdiam, memandangi air-air yang menghujam tanah dan sesekali berbelok arah terbawa angin. “Anyway, thanks Kris.”

“For?”

“Just, thanks.” Ia menyelipkan kedua tangannya di balik paha dan betis, memeluk kakinya lebih erat. Rambut dan kemejanya yang setengah basah perlahan menurunkan suhu pada tubuhnya, membuatnya mulai merinding kedinginan.

Ia tak perlu Kris mengajaknya ke cafe di dalam dan menikmati secangkir coklat panas, ia juga tak perlu Kris memberinya jaket atau apapun. Mengenalnya, mengetahui sifatnya yang hangat, duduk bersama lelaki itu di lantai yang entah bersih atau tidak, sudah cukup membawa tubuhnya pada suhu yang stabil.

“Suri,”

“Hm?”

“Jangan tersinggung.” Gadis itu menoleh, menatap wajah Kris lekat-lekat. Mencari setitik guratan canda, atau ledekan, tapi air mukanya begitu nyata. Membuatnya merona sendiri. Ia tak tersingung oleh perkataan orang—mengenai rambut atau tato di tubuhnya, ia hanya sedang merasa tak nyaman.

“Aku baik-baik saja, baiklah, mencoba untuk baik-baik saja. Tapi serius, aku sudah biasa.”

“Kau tahu kau tidak sendiri kan?”

“Tentu, aku punya Eliz, punya Luhan juga—jika ia rela aku jadikan tempat sampah. Atau kau juga mau?”

Keduanya tertawa pelan. “Boleh juga.” Kris menyahut akhirnya. Keduanya kembali bungkam, dalam derai suara hujan yang begitu dingin namun nyaman di saat bersamaan. Tapi Suri tidak dapat membohongi diri, tubuhnya mulai menggigil lantaran bajunya yang setengah basah tak kunjung mengering. Kris melirik sekilas, mencuri pandang pada gadis yang tengah berusaha untuk tak menggigil atau merasa kedinginan. “Suri,”

Gadis itu memejamkan mata, menekan kuat-kuat suhu tubuhnya yang semakin turun. “Hhm?”

Butuh sekian detik baginya untuk kembali berpikir jernih, menyadari alasan bulu kuduknya yang meremang semakin kuat, dan tubuhnya yang tahu-tahu seperti melayang entah kemana. Tapi kemudian desiran hangat mengalir ke sekujur tubuhnya, membuat wajah dan dadanya tahu-tahu memanas. Tangannya bergerak, baru akan mendorong dada laki-laki itu menjauh.

Stay still.”

Entah karena nada otoriter dalam kalimatnya barusan, atau karena otaknya yang mulai kehilangan fokus, ia mengangguk kecil. Jantung Suri berkerja lebih cepat dari biasanya, adrenalinnya semakin tinggi, desiran-desiran dalam dadanya semakin panas, dan untuk pertama kalinya… ia merasakan apa yang orang sebut dengan, butterflies in my tummy starts to fly. Bulu kuduknya kembali meremang, jemari hangat Kris yang berada di lehernya mengalirkan energi panas. Suri benar-benar hampir lupa cara bernapas ketika lelaki itu, akhirnya, menyelipkan bibir bagian atas dan mulai mengulum bibirnya.

Sialan. Suri mengerang dalam hati. Sebutkan alasan bagi Suri untuk tak membalas ciuman ini! Tak ada. Iya, terkejut tak akan menghalangi sistem kerja otaknya yang telah rusak akibat sentuhan jemari Kris pada gambar setangkai mawar yang telah lama bersarang tepat di atas tulang selangka kirinya. Juga ciuman Kris yang begitu intens. Tak ada yang otaknya bisa jeritkan selain membalas, menangkup wajah lelaki itu dan menariknya lebih dekat. Mencium orang yang baru ia kenal pagi ini jelas bukan pilihan tepat, tapi toh, ini hanya untuk menghangatkan tubuh, bukan?

Suara hujan, tatapan orang, tak satu juga dari keduanya yang peduli akan hal itu. Suri telah lama kehabisan ruang untuk bernafas, otaknya tak punya cukup tempat untuk memikirkan hal selain menelusuri leher jenjang Kris dengan jemarinya, dan membalas ciuman itu dengan penuh hasrat. Begitu tuli hingga tak ada suara lain yang dapat mereka dengar, selain deruan nafas yang semakin lama semakin tersamar oleh lenguhan yang tercekat di kerongkongan masing-masing. Kris mengurangi intensitas ciumannya, mengecup bibir Suri yang semakin merah itu beberapa kali, sebelum akhirnya mengakhirinya. Persedian oksigen dalam paru-paru sudah terlalu tipis baginya untuk melanjutkan, tentu ia tak ingin tersengal keras hingga membuat orang lain bergidik ngeri melihat keduanya. Meski sebenarnya sejak tadi tak ada satu orang pun yang berlalu lalang di sekitar mereka.

Kris menyandarkan keningnya pada tembok, berusaha mengatur nafas. Sementara Suri semakin merona malu namun merasa kian panas, hembusan nafas Kris di pundaknya membuat ia susah payah menelan ludah dan menjadi tak konsen mengatur napas.

“Sepertinya udara sudah tak sedingin tadi.” Nada menggoda dalam kalimat Kris barusan membuat Suri mengerang sebal, ingin sekali memukul lelaki itu. Suhu tubuhnya sudah naik, bukan hangat, ia kini justru merasa sangat panas.

-ooOoo-

Senyum Kris kembali terukir, gadisnya perlahan mulai membuka mata. Ia menangkup wajah itu, seolah pahatan indah namun ringkih di saat bersamaan. “Hai.” Suri berusaha menyapa dengan suaranya yang terdengar sengau.

“Ayo, keringkan tubuhmu.” Kris menepuk paha Suri, lantas menarik gadis itu. Tapi tampaknya gadis itu sudah lebih dulu terserang demam. Jelas, siapa yang tidak akan sakit jika tidur dengan jendela sebagai sandaran dalam keadaan basah kuyup? Mestinya ia memaksa Suri untuk mandi lebih dulu tadi.

“Sebentar dulu,” ia mengerang, kepalanya mulai terasa pusing. Kris berdecak, merapatkan tubuhnya untuk melilitkan handuk pada tubuh gadisnya. Lantas, membopongnya menuju kamar mandi. “Aku bisa jalan sendiri,”

“Sure, tapi akan memakan waktu sampai setengah jam.” Suri memukul lengan Kris pelan.

“You know, i rather do anything for you than see you giving yourself a hardtime,” ia memulai ceramahnya, sambil menyampirkan handuk tadi di meja westafel.

“I’m fine, honey.” Suri baru akan memutar keran air ketika Kris menepuk tangannya, rasanya ia baru saja bilang kalau ia lebih memilih untuk melakukan apapun demi Suri daripada melihat gadis itu kerepotan. “Ini sesi wajib dalam kehidupan, setiap orang mengalaminya. Ah, panas!”

“Maaf.” Kris buru-buru memutar keran.

“Oke, aku melampiaskannya dengan cara yang salah. Dramatic and pathetic, actually. Tapi sungguh, selain demam yang mulai datang, aku baik-bak saja. Setidaknya, dibawah guyuran hujan tadi rasanya semua beban ikut luntur.”

Kris mendesah. “You know you can always talk to me, right?”

“I know, i have you. A handsome prince that act like a maid.” Suri langsung tergelak heboh. Kris sudah terbiasa dengan kalimat barusan, biasanya ia akan menyentil kening Suri tapi hari ini ia akan bersabar.

 “Terima kasih.” Pandangan Suri mengekor pada setiap gerak-gerik Kris, lelaki itu mematikan keran lantas mengecupnya sebelum berjalan keluar.

“Enjoy your time, aku akan keluar mencari makanan dan minuman hangat.”

“Kris,”

“Hhm?”

“Thank you, so much.”

“Satu kali lagi dan aku akan menciummu hingga pingsan.” Suri kembali tertawa, Kris baru akan membuka pintu kamar mandi ketika gadis itu memanggil lagi. “What else, princess?”

“I love you,”

Kris berdecak. “I fucking love you too, so damn much until i want to throw you out of the window.”

“Wu Yi Fan!”

“Just enjoy your bath time already, my lovely, pretty little princess.” Untuk yang kesekian kalinya Suri terbahak, tak ada yang ia suka selain menggoda kekasihnya yang satu itu. Lelaki itu baru akan menutup pintu kembali, ketika ia teringat sesuatu.

“Suri,”

“Ya, tampan?”

“Have i told you i love your rose?”

Suri terkekeh, “I know right,”

Tak ada yang lebih mengerti dari dirinya, tidak juga Suri sang pemilik mawar indah berduri itu. Ia mencintainya, sesakit apapun duri yang telah menggores atau yang tengah menunggu waktu untuk membuat goresan baru pada tubuhnya. Dengan atau tanpa duri itu, Kris akan tetap menjadi kupu-kupu hitam yang melindungi mawarnya.

-Sudah-

Note: Oke, pertama kepada teman saya yang pikirannya *cough*mesum*cough* otak saya sudah tercemar, thank you very much. Kedua, yakin.. ada sesuatu yang kurang di sini.. tapi semakin saya baca ulang semakin gak dapet mana yang kurang. Beneran deh, tolong kasih tahu saya FF ini tuh kurangnya apa. Ada.. sesuatu.. tapi saya gak nemu juga ._.v. Ketiga.. saya bukan gak ada foto Kris yang lebih jelas.. tapi foto ini mirip sekali dengan Sungyeol. Jadi… sambil menyelam minum air #bukan

Anyway, terima kasih banyak sudah mampir ^O^

Advertisements

16 thoughts on “[Ficlet] Rose

  1. Ah, yes… Itu kris mirip sama sungyeol, ya? O.o

    oiya, aku menemukan bagian akhir dr cerita ini kesannya begitu fluff dan cheesy, entah ini perasaanku aja apa gimana…rasanya kurang menyatu aja dgn bagian sebelumnya.
    Anw, mengenyampingkan semua itu, ehem… Tau gak sih, aku suka bgt tulisan kamu. Narasinya itu lho… XDD

    well done.

    P.s. Letukan itu apa, ya?

    1. YA AMPUUUUUUUUUUUNNN KAKA MAIN KEMARI TANPA AKU MINTA ASTAGAAAA
      INI KEBAHAGIAAN TINGKAT DEWAAAA
      hahahha oke lebay tolong pukul saya

      Mirip sekali kakaaa
      Iya memang hahaha endingnya itu sungguh sangat maksa kak, aku tuh stuck parah terus temenku intervensi eehh jadi begitu deh narasi akhirnya ahaha bikin malu sekali

      Ah bohooooooooonnngggg narasi aku mana pantes disukaaaaa *blush* narasi kaka lebih pantes disuka, oh wajar, aku fans mu hahaha~

      MAKASIH KAAAKK ^O^
      letukan? dasarnya sih dari kata letuk kak, aku yang typo -kan nya lupa dihapus. Berdasarkan kamus bahasa indonesia sih artinya tiruan bunyi ketukan pada pintu

      1. Hehe..yaampun, kepslokmu jebol lho ntar.
        Ah, i’m not that good, aku jg maaaaasih butuh byk blajar. Bca” ceritamu, aku kan jg bsa dpt ilmunya dr kamu. Hehehe…
        Terussss…selain krn aku emg suka tulisanmu, ya karena di sini kamu pny byk cerita pendek (aku penggila cerita pendek :P)

        oh, jd letukan itu artinya begitu ya. Sblum ini soalnya aku blm pernah denger >.<
        (nah tuh kan…. Blm apa'' aku jg udh dpt ilmu dr kamu :P)

      2. hahaha buat ka diyan aku rela caps ku jebol *apacoba*
        haiyaahh dari aku mana ada ._. dari kak bibib tuh, mantap
        kebetulan otakku baru kuat bikin cerita pendek hahaha, mungkin kalo udh sejago penulis lain aku icip2 bikin sequel.
        btw, aku justru suka nulis cerita pendek karena waktu itu nyasar ke blognya kak diyan loh. Aku baru nemu pesonanya cerita tipe vignette, ficlet atau drabble. LOL

        Eh kok jadi OOT ._.a

        oh ya? kata letuk ini blm umum ya … sebenernya sih emang aku ngarang LOL aku pingin sok jago gitu kak narasinya, kebetulan aja ternyata kata ‘letuk’ emang ada di KBBI… ROFL

  2. Aduh, Suri masih kecil udah berani kissing-kissingan sama personil EXO ini. Papah Cruise mana Papah Cruise?

    HALLLOOOOOOWWW LANAAAAA SI PEMILIK BLOG LINGERIE *iya, iya, Linger Alley* AKUH DATANG! *bekson: orkes penganten*

    Ai ai ai…Lana sudah bisa ya…ngedeskripsiin detil-detil you know what i mean jiye jiyeee~~
    Lana tambah jago nih bikin ceritanya! Keep writing!

    1. Eeeehh mampir juga dia ternyata kekeke

      Bukan Suri yang itu =,= *poke Kris* tolong ya mas, mbak ini di guyur.

      Hahahahah haduh haduuuhhhh.. terus aja teruuusss.. lama-lama aku posting koleksi lingerie nya Victoria’s Secret atau Fredericks sekalian nih

      hah… hah… hahaha *blush*
      oke.. untuk yg satu itu.. ya sudahlah ._.a

      haiyah bisa aja mujinya =,=
      anyway… MAKASIIIIHHHHHH~ KEKEKE~

    1. Oh my god xD
      kkkkkk i’m not blushing, im just having a fever, ok… i’m blushing hahahha this is embarrassing
      well, i don’t even know what am i thinkin while write this… so screw me kkkk
      thanks for comment btw!

  3. “Satu kali lagi dan aku akan menciummu hingga pingsan” hemmmm ini imajinasi mesum yang bisa bikin positive thinking. Sudah kubaca sudah kubayangkan dicium sampe pingsan. Terbersit potongan lagu ADA band ” RASNYA INGIN MALAM INI MENCIUMU HINGGA LEMAS hehehehhe. Bahasanya bagus Lan gak kalah sama penulis yang novelnya best seller but masih ada masalah sama klimaks yang kecepetan dan kurang greget. AND AAAAAAAAAAAHHHH AKHIRNYA gak pake nama korea yang bikin gue pusing ngafal namanya. GOOD JOB LANA YEEEAAYYYY!!!!!!

    1. SONIAAAAAAAA
      GUE MAU PINGSAN BACA LO KOMEN hahaha
      Gara2 waktu itu cerita pertama yg gue kasih lo bilang ‘kurang panash’ terus gue jadi begini deh hahaha
      begini Sonia, kalau dalam dunia FF, ada jenis cerita yang lebih pendek dari cerpen dan fokusnya ada di karakter bukan di apa ya istilahnya, bukan di masalah deh, tapi emang jenis cerita yang gue bikin ini fokusnya di karakter tokoh dan ceritanya sengaja dibikin ringan gitu. Jadi gak pake ada konflik atau semacem itu 😀
      btw makasih udah komeeenn
      gue gak nyangka lo sampe mau ninggalin komen segala huhuhu terharu. Cinta Sonia~

  4. KRISSSSS !! AKAKAKA
    well kris well image cool nya udah ancur gegara exo’s time wakaka
    tapi disini jadi cool tapi wild gitu, apayaa yg kurang.. hemm ini aja otak gue udah keracunan bacanya wkwk karakter cewenya aja sih yg gue kurang ngerti kurang detail mungkin (?) gue suka nih kalimat lo yg “…ketika lelaki itu, akhirnya, menyelipkan bibir bagian atas dan mulai mengulum bibirnya.” it’s a highlight baby wakaka LOL

    1. babbbbiiiiii hahahhaha
      kenapa harus kalimat yang itu xD akakakka gue langsung merona gitu akakak
      Iya, gue emang fokusnya ke si Kris aja sih, biar tokoh ceweknya pembaca yang pikirin sendiri

      ini pasti gegara Sonia komen yee makanya lo komen juga? hahahah gue jadi maluuuu xD

  5. Tolong kasi aku insulin.. ini MANIIIIIIISSSSSS BANGET!!
    aku diabetes nih… ^^

    Kris yg diluar dingin tapi lembut di dalem.. #eh
    A prince who act like a maid
    ngakak pas baca bagian itu kkkkk
    suka Kris disini, meskipun dumb dia di exo showtime menghancurkan imej cool
    boy.nya
    Ditunggu lagi next fiction..

    Kalo bisa si Oh Sehun atw Lee Donghae yak.. mereka kalo masuk di fict fluffy kaya gini pas bgt..

    1. LOL
      Ah kamu maahh jangan memuji berlebihan, aku semacem kegeeran gitu nih hahaha

      Oh yes, tampilan kayak aspal tapi hati kayak kapas. That’s so Kris.
      Ya ampun, tolong jangan bahas showtime… aku sedih imej dia hancur berkeping-keping gitu hahaha

      Yess!!
      Well, aku coba yaaa ^O^
      nanti mampir yaaa
      ❤ ❤ ❤

  6. HALO KAK LANA ini ownernya SF3SI itu kan? Aku dulu jaman smp suka main ke sana loh Kak *lhaterus

    Okay, kenalin kak, aku Helmy 98L. Setuju banget kalau Kris mirip Sungyeol atau Sungyeol mirip Kris terutama di bagian bibir Hahahaha *digampar

    Seriously, ff ini berhasil bikin aku jerit-jerit gelindingan apalagi kissing scene-nya asdfghjkl. Sukak banget karakter wyf di sini dan berhubung dia satu-satunya bias aku ((kalau jongen enggak diitung XD)) ini bayanginnya udah mau mimisan Lol

    “Si jangkung berwajah bak pangeran
    dari negeri dongeng, dengan
    senyum yang bisa meruntuhkan
    dunia orang lain.” Menurut aku ini terlalu subjektif tapi aku nggak bisa nggak setuju X))

    Anywayy, great fic, Kak. sukaaak~

    xoxo,
    @helmynr

    1. HALO HELMY ^O^
      IYAAAA AKU YANG PUNYAAA… heuuhh terus sekarang udah gak pernah main lagi eksana? ;_:

      Iya iya, emang mereka berdua miripnya di bibir-ehem-senyum
      wkwk

      LOL kok kamu lucu banget siiihhh!! cini cini aku ciuuumm~
      Ya kaaaannn?? Gila, senyumnya WYF tuh…. DUUUUUHHHHHHHH gak kuaaaatttt

      anyway.. MAKASIH HELMY UDAH MAU MAMPIR ^O^ *pelukcium*

      xoxo
      ❤ ❤

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s