[Vignette] Breeze

Breeze

 d-o10

Cast: Do Kyungsoo & Ahn Gina

Note: Kyungsoo, astaga kamu menggemaskan sekali! Dan kenapa kerya terbaik saya sejauh ini harus ff nya kamu? Oke, sejauh ini… si amatir Lana menulis ff ini dengan jiwa dan raga. Iya, terima kasih banyak kepada seorang penulis dengan karyanya yang dewa sekali. Saya terdorong untuk menulis. Dan terima kasih juga kepada lelaki bersuara luar biasa indahnya, susunan suami saya jadi berantakan. Yakin banyak kurangnya, saya masih belajar. Makanya, untuk yang satu ini saya harap kamu bisa komen ^^. Butuh penilaian, beneran deh. Terima kasih sebelumnya, saya cium kamu deh *smooch*

Langit petang mengibarkan sayap jingganya, membiarkan suhu hangat menguar dan bertukar posisi dengan dingin. Musim bahkan belum sampai pada penghujung gugur, tapi dinginnya salju sudah mulai terasa. Kerap kali mengundang keluh dari para makhluk darat, seyogianya suhu sedingin ini merupakan pembukaan bulan es putih. Tapi toh pemandangan musim gugur, dan sepoi angin yang terkadang berhembus lembut masih menyisakan keindahan.

Hari ini merupakan jadwal wajib kumpul para lelaki ini, entah movie marathon, menikmati masakan teman sepermainan mereka, atau hanya duduk sambil menyesap minuman hangat dan mengobrol hingga kembali bertemu dengan matahari. Biasanya hanya laki-laki, orangtua lelaki bermata besar—sang tuan rumah—akan memberi ruang dan pergi liburan hingga minggu petang menjelang. Tapi semenjak mengenal sosok itu tujuh bulan lalu, sosok yang tengah duduk di ayunan taman belakang, telah membuat perubahan dalam stuktur kumpul mereka.

Tak ayal terkadang ia takut, sosok itu akan membuat perubahan pada intensitas hubungan mereka semua. Atau lebih buruk, menghancurkan mereka. Tapi tak ada yang terlalu ambil pusing, hanya ia yang terlalu khawatir. Karena ia tahu, mungkin justru dirinya yang akan menghancurkan rantai itu.

“Kau mau kemana?” seorang laki-laki mengerutkan keningnya, mengamati si tuan rumah yang tengah berbalut jaket tebal.

“Gina,”

Lelaki itu melirik taman belakang, lalu mulutnya mengisyaratkan huruf ‘O’ lantas berlalu. Si tuan rumah lekas menggeser pintu kaca kemudian membiarkan tubuhnya beradaptasi dengan suhu udara di luar rumahnya yang begitu dingin, wajahnya memucat dalam hitungan detik.

“Kyungsoo, tutup pintunya!” salah satu dari mereka berseru, padahal ia duduk tak jauh dari perapian. Kyungsoo buru-buru melangkah keluar dan menutup pintu kaca rumahnya. Mengganti sandal rumah dengan sepatu, perlahan kakinya mulai berjalan mendekati ayunan panjang kesayangannya.

Gadis itu terpekur dalam gusar, memandangi kedua kakinya yang telanjang, memutih dan membuat warna garis-garis pembuluh vena di kakinya menjadi kontras. Tangannya sudah sama beku dengan badan ayunan yang terbuat dari bahan semi alumunium, diwarna dengan coklat kayu. Matanya lantas menangkap ujung sepasang sepatu berwarna coklat, tak berminat mendongak meski tak tahu siapa pemilik kaki itu.

Kyungsoo setengah berlutut, membersihkan kaki pucat itu dengan sehelai tissue. Membuat ia sedikit tersentak dengan sentuhan yang terasa dingin, namun tak menolak ketika sepasang tangan itu kini memasangkan kaos kaki bergambar beruang. Mengundang seulas senyum, ia tahu siapa pemilik kaos kaki menggemaskan ini.

“Terima kasih, Do Kyungsoo.” Ia berucap riang, suasana hatinya mendadak berubah ketika Kyungsoo duduk di sebelahnya. Wajah dengan porsi langka namun tampak penuh itu bagaikan pemantik, memberikan percikan panas dalam dirinya. Keberadaannya di sini, dengan udara sedingin ini, jelas bukan hal yang akan dilakukan dengan senang hati. Ia tahu Kyungsoo tidak kuat dengan udara dingin. Apalagi teman-teman mereka tengah asik bergelung dalam selimut di depan perapian.

“Apa yang kau lakukan di sini?” pertanyaan bodoh, Kyungsoo merutuki diri sendiri. Semua orang tahu bahwa ia tahu apa yang Gina lakukan di sini. Mendinginkan kepala. Entah makna seperti apa yang tepat untuk mendefinisikannya, yang pasti gadis ini merasa terlalu panas untuk berada di dalam rumah. Terutama berada di sekitar lelaki dengan senyum menawan dan kulit gelap eksotis, Kim Jongin. Kali ini Kyungsoo yang merasa kepanasan. “Tidak tidak, tak usah kau jawab. Aku yang bodoh menanyakan hal itu.”

Gina tersenyum, menarik kaki lalu memeluk lututnya erat. “Terima kasih sudah mengundangku,”

“Sama-sama, aku senang ada kau yang bisa membantu mencuci piring dan memasak.” Keduanya terkekeh pelan, sejurus kemudian kembali terbungkam dalam dinginnya udara sore. “Aku senang bisa mengenalmu,”

Kyungsoo mencuri pandang pada sosok di sebelahnya, Gina sendiri nampak tak sadar. Ia terlalu serius memandangi gambar pada kaos kakinya, dan pikirannya sibuk meneriakkan kata maaf. Ia menyesal sebenarnya, mengenal Kyungsoo demi Jongin. Mengenal teman-teman Jongin, hanya karena ingin lelaki itu meliriknya. Naïf, tapi apa yang bisa ia bilang? Kim Jongin benar-benar mencuri hatinya… kala itu. Sebelum ia mengenal teman-teman Jongin, sebelum ia mengenal Kyungsoo.

Tubuh mungil dengan wajah penuh itu menyedot habis perhatiannya, Kyungsoo benar-benar pria menawan yang sangat menggemaskan. Tidak tahu cara bergaul dengan orang—jika bukan karena Jongin ia tak akan kenal siapa-siapa, terlebih tak tahu bagaimana harus berbincang dengan seorang perempuan. Ia ingin sekali mencarikan gadis manis dengan hati sesuci malaikat yang bisa menjaga Kyungsoo, tapi ia buru-buru mengurungkan niat itu. Siapa dia, bisa-bisanya berpikir untuk ikut campur cerita asmara Do Kyungsoo?

“Aku tidak akan meninggalkanmu, Soo.”

“Tapi Jongin…—“

Kyungsoo bahkan belum menyelesaikan kalimatnya, tapi air muka Gina sudah berubah. Ia semakin merasa bersalah, yakin membuat Gina teringat lagi. Jongin menyukai gadis lain, ironisnya rasa suka itu sebesar rasa suka Gina kepada Jongin. Jika saja rasa itu ditujukan kepada Gina, mungkin Jongin tak perlu repot-repot melakukan ini itu demi menarik perhatian si gadis. Tapi Gina justru merasa bersalah, jika saja ia mengenal Kyungsoo bukan dengan motif ingin bersama Jongin. Jika saja hubungan mereka begitu murni.

“Aku harap kau tidak keberatan menjadi sahabatku, aku menyayangimu.” Lelaki itu memijat tengkuknya, merasa begitu canggung mengucapkan kalimat itu dari mulutnya. Ia tak pernah tahu ada apa dengan dirinya, mengapa ia begitu kaku dan antisocial meski ia dan Jongin bagaikan perangko dan kertas. Walau kata orang lebih seperti minyak dan air.

“Aku tidak akan meninggalkanmu.” Gina tahu benar kemana arah pembicaraan mereka, bagaimana seorang Kyungsoo bisa mengucapkan kalimat tadi.

“Tapi kemarin—,”

“—aku tidak akan pergi,”

“Jongin bil—,”

“—Do Kyungsoo, aku bodoh. Oke? Jongin benar, aku idiot.”

“Ya, kau memang idiot.” Kyungsoo menimpali akhirnya usai terdiam beberapa saat, mencuri pandang untuk melihat reaksi Gina. Takut gadis itu menyalah artikan maksudnya, atau kembali tenggelam dalam luka.

“Aku hanya butuh waktu, untuk berpikir secara jernih. Tanpa interupsi wajah menggemaskanmu, senyum memikat Jongin, suara indah Baekhyun, tawa renyah Jongdae, atau—pokoknya aku butuh waktu.”

Kyungsoo terpekur, sebesar itukah lahan yang Jongin dapatkan di hati Gina? Hingga gadis itu harus mengisolasi diri untuk meminimalisir dirinya dari luka, dari kenangan yang akan tetap tinggal dan menjaga goresan luka itu tetap basah. Lantas, seberapa besar nama gadis itu mengambil alih hatinya? Dibandingkan menjauh dan mengisolasi diri—meminimalisir resiko luka seperti yang Gina lakukan, ia justru semakin mendekat. Membiarkan ia terus terluka, asalkan gadis itu bisa kembali mengumpulkan serpihan hatinya. Sudahkah gadis itu merasa lebih baik? Siap melihat Jongin yang semakin gencar mengejar sang gadis, yang tak juga meliriknya?

“Aku juga menyayangimu, Soo. Aku tidak akan meninggalkanmu, sumpah.” Gina tersenyum, tampak lelah tapi Kyungsoo tak masalah. Ia tidak pernah melihat Gina tersenyum tanpa Jongin sebagai alasan, ia sudah muak.

Keseunyian itu kembali, mengunci mereka, kali ini terasa lebih nyaman. Gina selalu merasa nyaman, jika itu dengan Kyungsoo. Tapi lelaki itu, selalu sarat kegelisahan, entah karena apa. “Bernyanyilah, untukku.”

“Di sini dingin, suaraku—.” Kalimatnya dipotong suara tawa Gina, ia jadi masam.

“Aku tetap suka suaramu Kyungsoo, walaupun jadi terdengar seperti suara kucing yang terjepit pintu.” Keduanya tertawa pelan, nyaris tanpa suara. “Aku tetap suka, jadi menyanyilah!”

“Lagu apa?”

“Apapun indah dengan suaramu.” Wajah Kyungsoo memanas, ia benci merasa seperti banci begini. “Aku serius,” katanya menambahkan kemudian tertawa. “Kau malu!”

“Tidak!”

“Kau tersanjung,”

“Kau kacangan!”

“Tapi kau suka.”

“Sialan kau, pemuji ulung!”

Gina tertawa lagi. “Sudahlah, cepat nyanyi untukku!” ia menyandarkan tubuhnya pada Kyungsoo, menautkan jemari mereka seolah hanya itu yang dapat menjaga mereka tetap hangat. Tapi Kyungsoo merasa panas, gerah dan gugup. Ia mengatur napas, berdeham mempersiapkan suaranya lantas mulai melantunkan tembang milik Eric Bernet, The Last Time.

Kyungsoo sadar benar, Gina bukan gadis yang suka menebar sentuhan pada siapapun. Meski dengan Jongin, ia tak pernah dengan lancang menyentuh lelaki itu. Tapi entah sudah berapa kali, Gina memutuskan teori itu ketika dengannya. Merangkulnya, memeluknya, menggandeng, melakukan apapun seolah Kyungsoo tak akan pernah risih. Ia memang tak pernah, logikanya rusak ketika bersama gadis ini. Tapi hatinya merasa bahagia namun sakit disaat bersamaan. Senyaman ini kah Gina dengannya? Sehingga gadis itu tak merasa setitik rasa gugup ketika mereka bersama, membuat sikapnya mendadak canggung karena berusaha mengatur sikap.

“Ketika pertama Jongin mengenalkanmu padaku, aku ingin mencubitmu. Gemas. Kau laki-laki paling menggemaskan yang pernah kutemui, kau menyenangkan.” Kyungsoo ingin sekali menutup mulut Gina, tak ingin mendengar sepatah kata dari bibir mungil itu. Karena, semakin Gina bicara semakin pecah konsenterasinya.

“Aku pernah berpikir untuk mencarikan gadis untukmu, yang manis dan baik hati. Tapi lancang sekali aku, padahal aku sendiri belum berhasil mendapatkan… kekasih.” Gina memeluk lengan kiri Kyungsoo, seakan tak ingin lelaki itu pergi dari sisinya. Ia sungguh ingin mendorong Gina jauh-jauh dari tubuhnya, tak peduli sedingin apa nanti. Ia bisa lekas memeluk diri dan memberi kehangatan pada dirinya sendiri seperti selama ini. Tapi tubuhnya menolak untuk bergerak. Lantaran hangat yang menjalari sekujur tubuhnya, lebih nyaman dari bergelung di depan perapian.

“Tapi aku benar-benar ingin melihatmu mendapatkan gadis yang bisa membuatmu tersenyum setiap hari, kemudian kau akan mencintai dunia.” Aku hanya ingin kau, jika saja Kyungsoo bisa mengatakannya.

“Denganmu, dengan Jongin, aku menyayangi kalian. Ketika akhirnya aku terjebak dalam dilemma, terluka melihatnya menyukai gadis lain tapi ingin melihatnya tersenyum dan bahagia. Aku tak ingin, memaksakan diri jika memang bukan untukku. Ketika September berlalu, rasaku akan berakhir. Gugur bersama dedaunan kering yang coklat dan berlubang. Sejurus, pikiran naifku menggelung hingga kukerahkan segalanya. Tapi nyatanya aku justru terpuruk dalam pikiranku, terlalu buta untuk tahu bahwa ini obsesi semata.”

“Kau—“

“—jangan berhenti bernyanyi!” Kyungsoo menurut, dan gadis itu kembali mendominasi perbincangan sore itu. “Aku bodoh, Jongin bilang demikian. Aku mengejarnya, tapi aku selalu memulai dan mengakhiri denganmu. Aku selalu mencarimu, seolah kau harus satu paket denganku dalam pengejaran cinta tak berbalas ini. Dasar idiot, itu kata Jongin lagi. Jongin menamparku.” Dalam pelukannya, Gina merasa lengan lelaki itu menjadi kaku. Tubuhnya siap berdiri, tetapi ia kembali memeluk lengannya erat-erat.

“Kat—“

“Lanjutkan!”

“Tap—“

“Aku sedang membicarakan soal diriku, jadi tak usah ikut campur sebelum aku mengizinkan.” Kyungso menggela napas keras-keras, sebal tapi tetap melanjutkan lagunya yang mulai tidak karuan.

“Ah, aku malas melanjutkan!”

“Kalau begitu lagu lain. Aku mau dengar Marry Your Daughter milik Brian.”

“Tidak hafal,”

“Aku bantu.” Kyungsoo menggeram pelan, tapi lagi-lagi tetap menuruti permintaan Gina. Ia hafal, tentu saja. Telah lama, sejak pertama kali ia jatuh cinta dengan seorang gadis. Tapi ia masih ingat setiap lirik dalam lagu itu, meski tak pernah berhasil menyanyikan lagu itu untuknya. Mungkin kali ini akan berbeda. “Tidak secara harafiah.” Gina melanjutkan ceritanya, ketika Kyungsoo telah menyanyikan satu bait.

“Karena itu aku butuh waktu, untuk meyakinkan diriku bahwa Jongin benar. Bahwa hatiku tidak salah memberi tanda, bahwa aku yang buta. Ketika pagi itu kau datang, membawakan sup hangat kesukaanku. Aku menyayangimu. Kau hadir sore itu, ketika aku tergopoh menuju kamar mandi untuk memuntahkan seluruh isi perutku. Aku semakin menyayangimu. Malam itu, langit tidak memberikan pemandangan meski kita berdua telah berjalan menyusuri jalan setapak hingga kehilangan arah. Kau yang memberiku semangat, mungkin Jongin akan menyerah dan akhirnya melirikku. Kau benar, itu mungkin terjadi. Aku senang, masih ada yang mendukung meski aku telah melakukan hal terbodoh dalam hidupku.”

Jika ia bisa menangis sekarang, ia ingin sekali. Berlari dan bersembunyi, untuk sekedar meneteskan beberapa pasukannya. Dan menjadi banci barang satu atau dua jam. Ia tak akan pernah bahagia, meski Gina bahagia dengan Jongin. Bohong jika ia lebih memilih Gina tetap menyukai Jongin, asalkan gadis itu bahagia. Hatinya sakit, dan tak ada yang bisa ia lakukan soal itu. Ia yang bodoh, tak punya keberanian untuk mengutarakan yang sebenarnya.

“Tapi Jongin benar, kau yang lebih bodoh. Tidak, kita sama bodohnya. Dan ketika pagi ini akhirnya menatap wajah kalian lagi, usai mengasingkan diri berminggu-minggu.” Kalimat akhirnya dibiarkan dalam nada menggantung, menyisakan tanya. Gadis itu melepas pelukannya, membenarkan posisi duduknya lantas memejamkan mata. Menikmati setiap melodi yang tercipta, setiap lirik yang terucap, suara indah yang membuatnya mengawang tanpa garis pembatas. Matanya terbuka, meski tersamar jingga sore, tatapan dalam pada iris coklat terang itu nampak begitu jelas. Ia memandangi wajah Kyungsoo yang berusaha untuk tetap bernyanyi, tak mengacuhkan tatapan yang membuat wajahnya memanas itu. Pernyataan Gina tadi masih menimbulkan tanya; Apa yang membuat Gina berpikir mereka berdua sama bodohnya?

Tapi Kyungsoo tak punya cukup ruang dalam kepalanya, untuk mempertahankan pertanyaan yang mungkin ia sudah tahu jawabannya itu. Hati dan pikirannya menjadi tak sinkron, ketika Gina menyandarkan batang hidungnya pada leher Kyungsoo. Ia bahkan lupa caranya bernapas apalagi menelan ludah, tubuhnya menjadi lebih tegang. Ia tak siap untuk merasa lebih sakit dari ini, ia tak siap dengan kenyamanan Gina yang telah melampaui batas. Ia laki-laki dan Gina seorang perempuan, ia mencintai gadis itu yang sayangnya tak berbalas. Maka kenyamanan ini hanya akan menekan Kyungsoo dalam kecanggungan dan rasa sakit yang tak terjelaskan oleh teori ilmuwan macam apapun.

“Aku menyayangimu, mencintaimu jika kau butuh kata yang lebih jelas. Dasar bodoh.”

Kyungsoo merasakan perih pada kerongkongannya ketika akhirnya ia ingat untuk menelan ludah, detik berikutnya ia dibekap jutaan tanya. Apa ia salah dengar? Atau ia salah mengartikan? Ataukah Gina salah mengerti dirinya? Mungkin Gina butuh pelampian? Atau gadis itu setengah mabuk? Mungkin juga mengira bahwa ia adalah Jongin. Bisa saja saat ini ia sedang bermimpi? Atau tengah berbaring di atas paku hingga sakitnya tak terasa lagi. Dan ketika Gina menegapkan tubuh, menjauhi tubuhnya, dingin dan perih menusuknya.

“Dengan Jongin hanya obsesi jangka pendek semata, denganmu… aku menelan ekstasi yang membuat candu dan mematikan. Jika boleh hiperbola, aku mencintaimu hingga rela mati dalam keindahannya. Aku butuh waktu, untuk memperjelas perasaan ini. Untuk mengolah tamparan Jongin, untuk menyadari ini, untuk mengatakannya. Aku menyayangimu, aku membutuhkanmu, aku mencintaimu, aku ingin memilikimu, hanya untukku. Bukan untuk dibagi, dan apalagi sekedar pelampiasan. Tanpa alasan, aku ingin menghembuskan nafas denganmu, ingin menikmati sepoi angin bersamamu, ingin memelukmu, ingin melakukan segalanya denganmu. Kau boleh sebut ini obsesi juga, tapi jangka panjang, mungkin justru selamanya. Sekali lagi, aku menegaskan dengan berbagai kalimat hiperbola kampungan yang kuharap bisa menyadarkanmu. Bahwa kau tidak bermimpi, aku juga tidak. Kau bodoh, aku juga. Ini nyata, aku yakin. Karena hembusan angin ini terlalu nyata untuk menjadi bayangan semata, terlalu jelas untuk menjadi ilusi.

“Aku.Mencintai.Do.Kyungsoo. Pangeran dari negeri antah berantah yang bodoh, tapi telah memikatku dengan sejuta pesona tak tampak yang bahkan tak bisa kupamerkan. Jadi, tolong berhenti merutuki dirimu dan berbohong agar kisahmu tak sedramatis roman picisan.”

Tak ada yang saling bicara, tak ada yang mampu bicara. Gina telah kehilangan kendali atas dirinya sejak kalimat terakhir yang ia ucapkan, sementara Kyungsoo telah hilang kesadaran. Jika ini hanya mimpi, tak apa. Jika keindahan ini harus berakhir, maka jangan sekarang. Ia belum sempat menikmati ini, ia ingin menikmatinya. Jika ada mantera yang mampu mengabadikan gadis ini dan rasa cintanya, juga detik-detik penuh keindahan yang entah kenapa berjalan begitu lambat, ia rela menukar segalanya untuk itu. Jika Tuhan benar ada, jika tata surya benar milik-Nya, jika garis hidup ada pada-Nya. Ia rela, melakukan segalanya. Agar Tuhan menjaga ini untuknya, agar Tuhan mengerahkan segala kuasa-Nya. Karena kini, ia punya alasan untuk menikmati hidup. Menikmati sepoi angin dalam pelukan hangat.

“Astaga, kau pencinta ulung.”

“I know right.”

—Selesai—

Eh bonus… calon suami saya selanjutnya ^O^ *sini deh, lo gorok gue gak apa-apa*

d.o-exo

Advertisements

7 thoughts on “[Vignette] Breeze

  1. ooooohhhh, bagus akhirnya tu cewe nyadarrrrr. emang kadang obsesi itu suka susah dibedain, untungnya gina buru2 menyadari arti DO buat dia.
    Dan si DO-nya… aku kok nangkepnya ni cowo kepribadiannya lemah bgd. Aku greget ama cowo macem ini niiiiiii…
    narasinya si dapet dapet lan, tapi ada beberapa yang ngebingungin. eh, entah krn akunya yg lg sambil ngolah data apa gimana. Engga apa2 kan kalo aku tulisin apa yg aku tangkep?

    Omong2, sejujurnya aku ngerasa pusing baca bagian awal2. yg km ngedeksripsiin tt pemilih rumah yg ninggalin rumah pas weekend, adegan DO keluar rumah dan nyamperin gina. Di situ kurang jelas ‘ia’ yg dimaksud lg ditujukan kpd siapa.

    Ama di bagian2 ini lan kerasa aneh:
    Hari ini merupakan jadwal wajib kumpul para lelaki ini, entah movie marathon –> mungkin bisa ditambahin jd gini: Hari ini merupakan jadwal wajib berkumpul bagi para lelaki ini, entah untuk melakukan movie marathon…

    tampak lelah tapi Kyungsoo tak masalah —> tampak lelah tapi tidak masalah bagi Kyungsoo

    Keseunyian—> kesunyian

    “Apapun indah dengan suaramu.” Wajah Kyungsoo memanas, ia benci merasa seperti banci begini. “Aku serius,” katanya menambahkan kemudian tertawa. “Kau malu!”

    Nah paragraf macem itu tuh suka ngebingungin, siapa lagi bicara, siapa yg bereaksi, di bawah2 juga ada yg macem ini lagi tp lupa aku kopasin

    “Kau kacangan!” —> kenapa muncul dialog macem ini? kok tetiba blg kacangan?
    Tapi entah sudah berapa kali, Gina memutuskan teori itu ketika dengannya.

    disaat —> di saat

    “Aku pernah berpikir untuk mencarikan gadis untukmu, yang manis dan baik hati. Tapi lancang sekali aku, padahal aku sendiri belum berhasil mendapatkan… kekasih.” Gina memeluk lengan kiri Kyungsoo, seakan tak ingin lelaki itu pergi dari sisinya. Ia sungguh ingin mendorong Gina jauh-jauh dari tubuhnya, tak peduli sedingin apa nanti. Ia bisa lekas memeluk diri dan memberi kehangatan pada dirinya sendiri seperti selama ini. Tapi tubuhnya menolak untuk bergerak. Lantaran hangat yang menjalari sekujur tubuhnya, lebih nyaman dari bergelung di depan perapian.

    Paragraf di atas jg ngebingungin. ada baiknya dipisah aja lan pas nyeritain bagian gina dan reaksi. Eh tp ini pendapatku aja yaaa. Di ff zika pernah ada yg ngomentarin macem ini jg soalnya krn bikin bingung yg baca

    “Tapi aku benar-benar ingin melihatmu mendapatkan gadis yang bisa membuatmu tersenyum setiap hari, kemudian kau akan mencintai dunia.” Aku hanya ingin kau, jika saja Kyungsoo bisa mengatakannya.

    pelampian–> pelampiasan

    maapin daku kalo kurang teliti ato ada yg ga sepemahaman ama kamu, heheheh…
    btw sebenernya, tdnya mau aku tunda baca ini ampe kerjaanku kelar. tp pas liat poto imutnya DO di atas, umu umu umu, mau tau apaan isinya

  2. Ah, lagi-lagi menemukan fluff yg nge-‘boom’ di bagian akhir, ya. Hehehe…
    It’s not bad thing actually, ini bisa jadi suatu twist tersendiri. Tp utk bbrp ‘kasus’, hal ini bisa jg jd senjata makan tuan lho. Terutama ketika kamu memberikan kesan begitu gloomy dan introvert utk masing” castmu di awal hingga pertengahan cerita. Semacam jatuhnya jd ke out of character.

    Dan aku jg setuju sekali sama bbrp poin yg dibilang bibib. Ada bbrp dialog yg kesannya out of place dan bikin bingung. Kesan buru-buru di cerita ini terasa kentara bgt buatku.

    Aah… Ini aku udah cerewet bgt ya. Maafkan udh ngeracau di komen box mu >.< if it's annoy you, just tell me to shut up, i'll shut my mouth up. 😛

    1. Oh gitu yaaaa ._.a
      iya juga sih kalau aku pikir… soalnya karakter mereka di otakku sama karakter mereka di ff ini beda ternyata hahahhaa
      aku baru sadar kalau aku belum bisa nyusun karakternya mmppfftt ._.

      Iyaaa.. huhuhu.. harus di perbaiki lagi ini.. padahal nulisnya udah sepenuh jiwa hahahahah~

      Gak apa-apa kaaaaaakk ^^ aku emang lagi butuh penilaian banget. Biasaaaa penulis baru, masih amatir keke~
      duh masa komen ka diyan yang seuprit gini aku bilang mengganggu? Yang sepanjang kak bibah aja aku welcome banget akakaka

      Makasih kakaaaaa ^O^

      1. Huehehehe… Aku emang sering cerewet bgt kalo komen apa”, tp kan aku takutnya gak semua org nerima dicerewetin 😛

        oiya, td aku jg mau komen soal garis” nadi tp td kelupaan. Nadi itu pembuluh yg letaknya jauh dr permukaan kulit jd gak akan keliatan, lagian warnanya kemerahan karena kaya darah dg kandungan oksigen. Yg biru” dan letaknya ke permukaan kulit itu pembuluh balik ya, 🙂

  3. NAH NAH INI SUNGGUH SANGAT KAK BIBAH DAN SAYA SANGAT BUTUH SEKALEEEEE
    Hahahaa bahagiaaaaa~
    well, terima kasih karena rela mampir di sela ngerjain pengolahan data padahal aku udah bilang kapan-kapan aja hahah

    dan waaahh typo ku banyak sekaliii *O*
    Iya kak, semalem aku baca ulang terus mikir.. ini orang-orang pusing gak ya baca narasi yang benyakan ‘ia’ nya ._. aku nyoba ganti tapi bingung.. ppfftt lain kali aku perhatiin bener2 deh

    oh iya, kalimatnya enakkan begitu yaa ._.a

    Oooohhh aku baru inget, iya-iya… dulu ff nya zika eon juga macem itu ya.. dalam satu paragraf, yg punya dialog A tapi yang di kasih unjuk reaksinya B. okeee besok aku hindarin.
    Buat dialog yang itu.. kan si Gina macem ngegombal bilang “Apapun indah dengan suaramu,” nah maksudnya ditujukan untuk gombalannya Gina. Tapi kayaknya salah nempatin nih aku ._.

    Aaaahh beneeerr aku baru inget Zika eon juga pernah dikritik yang sama. Iya iya soal reaksi orang yang berbeda tapi dalam satu paragraf.. oke ngerti 😀 besok2 aku harus lebih teliti ini

    Gak apa-apa ^^ kita satu paham kok Kaaaakkk ekeke
    aku sengaja pilih foto yang umu umu beginiii hahah aku lagi gemes banget sama D.O aaaaaaaaaaaa gatahaaaaannnn

    by the way… TERIMA KASIH SEKALEEE KAK BIBAAAHH *kecup basah* semangat buat pengolahan datanyaaaaaaaaa!!!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s