[Drabble] Klise

KLISE

Lee Taemin EVerybody Dance Practice

Lee Taemin | Drabble – 615w | General | Fluff

Alunan musik dubstep mengisi kesunyian dalam ruangan bersisi kaca, lelaki dengan kulit putih pucat itu memutar tubuhnya, menghentakkan setiap lekuk tubuhnya mengikuti dentuman. Mungkin ini hal biasa, ia bukan satu-satunya yang bisa melakukan itu. Tapi lelaki itu satu-satunya yang bisa membuat gadis berambut coklat terang ini tergoda untuk mengintip melalui celah kecil pada pintu yang terbuka.

You can come in, y’know?” kali ini suaranya yang mengudara, seiring dengan musik yang mengalun samar-samar. Gadis itu yakin, sosoknya sama sekali tak terlihat. Tapi ketika mata lelaki itu menatap lurus padanya melalui cermin, ia mendadak merasa jadi perempuan paling bodoh.

“Maaf, aku akan pergi kalau kau merasa terganggu.” Ia berkata sembari membuka pintu lebih lebar dan mengusap tengkuknya dengan tangan yang lain.

“Kau tidak sungguh-sungguh kan? Karena kalau iya, kau tidak akan mampir lagi kemari usai kuusir kemarin.”

“Maaf,”

Don’t be, masuk saja.” Lelaki itu duduk bersandar pada cermin, menyilangkan kakinya. “Namaku Lee Taemin,” katanya lantas tersenyum, otomatis membuat kaki Lili menjadi jeli. “Kemarin kau bilang dari jurusan apa?”

“Musik, konsenterasinya composing.”

“Oh, keren. Kau tipe yang seperti apa?”

“Eh, apa? Maaf, maksudku, eh, maksudnya?” Astaga Lili, kau konyol sekali! Ia merutuk dalam hati. Tapi benar kan? Pertanyaan tadi itu memang agak ambigu, atau… memang Lili saja yang terlalu percaya diri?

“Tipe. Kau. Seperti apa?” aduh, Lili berani sumpah ia semakin bingung bagaimana menjawab pertanyaan yang ini. Lee Taemin ini sedang bertanya soal apa sih? Tipe lelaki? Tipe perempuan? Atau, oh, sebentar… sial!

“Entah, aku belum tahu aku tipe yang bagaimana. Belakangan aku justru tidak punya niat untuk bermusik sama sekali.”

“Masa?” Taemin tidak mengerti, bagaimana seseorang bisa kehilangan gairahnya. Ia mengambil jurusan seni penampilan karena ia suka, dan ia tak pernah merasa jenuh apalagi hilang gairah. Kenapa orang-orang tidak bisa mempertahankan gairah mereka?

“Yeah, kau tahu lah. Semua orang pasti punya saat tidak baik dalam hidupnya, sepertinya aku hanya butuh waktu untuk kembali merenungkan apa tujuanku dalam hidup.”

“Oh ya?” anggap saja Taemin menghinanya, tapi sungguh, Taemin belum pernah merasakan masa itu. Jadi ia lebih memilih untuk tidak peduli, dari pada pura-pura tahu. “Aku ada ujian bulan depan, mestinya aku mencari pasangan.” Ia bangkit, berjalan menuju sebuah ransel merah di pojok ruangan. “Aku pikir kau bisa jadi pasanganku.”

“Eh? Tapi aku tidak bisa menari.” Ehem, sebenarnya sih Lili berharap Taemin mengajaknya untuk jadi pasangan dengan konotasi lain, bukan pasangan tari. Tahu kan?

“Siapa bilang kau akan menari denganku?” Taemin berbalik, menatap Lili dengan ekspresi seolah gadis itu baru saja menyuruhnya pakai celana dalam. Oh, sepertinya itu kalimat penjelas yang kurang pas. Tapi yang pasti ekspresi Taemin benar-benar menyebalkan, kalau boleh sih, Lili ingin sekali mencium pipinya. Lili! Astaga!

“Jadi?” Lili mendongak lantaran Taemin kini berdiri satu meter di depannya, tapi Lili enggan berdiri meskipun kepalanya sudah sakit bukan main. Lili menatap tangan lelaki itu yang mengulur di depan wajahnya, menggenggam sebuah ponsel keluaran terbaru. “Ini apa?”

“Ponsel lah, kau tinggal di jaman apa sih?”

“Ya aku tahu ini ponsel, duh!”

“Masukkan saja nomormu, cepat! Namanya Lili Composer, supaya aku mudah mencari kontakmu nanti.”

“Untuk apa?”

“Ya ampun, aku ini bukan dosen. Aku tidak suka orang yang banyak tanya.”

Lili menggerutu, tapi tetap memasukkan nomor nya di ponsel Taemin. Ternyata lelaki ini bukan tipikal tokoh komik, menyebalkan sekali. “Nih!”

“Siapkan saja partitur-partitur musik yang pernah kau buat, aku mau lihat.” Lili baru akan perotes ketika ponselnya bergetar. “Itu nomorku, kau suka daging?”

“Hah? Oh, suka sih.”

“Besok siang ada jadwal kuliah?”

“Besok? Engh…,”

“Kenapa? Kau sudah punya janji makan siang dengan laki-laki?”

“Tidak sih,”

“Nah, sekarang kau punya. Jam dua belas di kantin gedung seni, jangan lupa bawa partitur musikmu. Dandan yang cantik ya, sampai jumpa!”

Kkeut

Note: I don’t even know why i titled this as ‘Klise’, barangkali karena plot nya sederhana dan umum ._. . Kurang feel yah? He-eh.. i, somehow, lose my ability to build the feel. Gah.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s