Turned Out Okay

Turned Out Okay

winter-date-night-outfit

Cast: Krystal, Jongin. (Mention of Taemin)

Summary: Krystal tidak mau menyebut pertemuan ini sebagai kencan, khawatir mengecewakan

Krystal terkekeh entah untuk yang keberapa kalinya, dia sudah tidak peduli lagi tatapan aneh orang-orang seolah dirinya punya tiga kepala. Teman chatting-nya kali ini sangat menyenangkan, menggemaskan bukan main. Krystal yakin lelaki itu belum lulus sekolah tapi temannya yang punya username Taem itu bersikeras dirinya lebih tua dari Krystal. “Whatever, yang penting kau menggemaskan sekali.” Katanya via telephone waktu itu lantas tertawa saat temannya mengeram kesal.

“Wow, sepertinya otakmu bermasalah.” Komentar Amber sambil berlalu ke arah dapur, membuka kulkas untuk memeriksa makanan. “Don’t fall to hard for him, yeah?”

I am not!” ponsel berbalut casing metallic pink kesayangan Krystal praktis tergeletak di sofa, dia tidak suka kalau Amber sudah mulai sok tahu. “But Amber, Amber, Amber, you know what?” gadis itu berlari ke konter dapur dan melompat ke salah satu kursi, memancing seruan ‘Hati-hati Soojung!’ dari Victoria yang kebetulan lewat. “We’re going out today!” seru Krystal riang enggan menyahuti Victoria yang toh sudah kembali menghilang.

Amber mengangkat alis kirinya, tangan kanannya menuang susu ke gelas. “Going out… as in?”

Ekspresi Krystal berikutnya membuat Amber ingin melempar gelas ke wajahnya, jika saja dia belum biasa dengan ekspresi-ekspresi tidak terkontrol anak itu. “Hang out, duh. Like a friend. Go to the cinema and eat.”

No friend meet each other for the first time after chatting for 2 months via Line and go to the cinema then eat.” Amber menekan nadanya pada silabel ‘friend’ lantas menegus susunya sebelum melanjutkan komentarnya. “Plus, you’re both from the opposite gender. So this kind of thing is called ‘a date’, Soojung baby.”

Yeah, whatever. Bagiku ini hanya teman yang kumpul bersama.” Sahut Krystal sinis, sedetik kemudian kembali secerah matahari di musim panas. “Kira-kira  aku pakai baju apa ya?”

This is winter Krys, what do you think you can wear, a bikini?”

Duh, you’re no help at all.” Krystal menjulurkan lidahnya sebelum berlari ke kamar Victoria.

Just tell me if he stood you up, I’ll cut his balls off.”

“EW, AMBER!”

What, I’m just being helpful here.”

Bibir Krystal tidak bisa berhenti tersenyum, dia tidak sabar ingin melihat sosok asli Taem. Well, beberapa kali Krystal memang melihat profile picture Taem secara diam-diam, tapi tidak satupun fotonya yang menunjukan wajah Taem secara sempurna. Seolah anak itu tahu Krystal akan diam-diam memerika foto profile-nya. Gadis itu sekali lagi membaca pesan Taem; coat abu-abu, celana hitam, rambut coklat. Krystal mengingat baik-baik ciri-ciri Taem sembari membayangkan akan seperti apa teman misteriusnya itu.

Dia melirik jam tangannya, sudah 15 menit semenjak waktu yang dijanjikan. “Mungkin macet,” gumamnya pada diri sendiri. Tangannya hampir membeku karena terlalu lama berdiri di luar, tapi café di sekitarnya sudah penuh oleh pengunjung, tidak ada satu kursi kosong dan dia sangat tidak ingin meneguk minumannya sembari berdiri. Berkali-kali menimbang keputusan antara menunggu hingga beku atau menunggu dengan segelas kopi hangat.

Fuck it.” Krystal memutuskan untuk masuk ke dalam salah satu kedai, enggan memindai isi café, yakin tidak akan ada kursi kosong tersedia hingga matanya jatuh pada sosok laki-laki yang duduk sendiri di meja yang terletak di tengah ruangan. Dia ingin sekali marah tapi rasa senangnya mengalahkan segalanya, dengan riang Krystal menghampiri lelaki itu lantas memukul pundaknya gemas. “Taem! Dasar kurang ajar, kau.” Gadis itu lantas menjewer telinga temannya, tidak peduli dengan ekspresi terkejut dan pandangan orang-orang di dalam kedai kopi tersebut.

“Aku menunggu hingga hampir beku di luar sementara kau duduk santai di sini, at least call if you have save me a seat.” Dengan segera Krystal menjatuhkan pantatnya di kursi yang berhadapan dengan temannya itu. “Gila kakiku hampir mati rasa.” Krystal meluruskan kaki jenjangnya, memukul pelan paha dan betisnya. “Dan ini semua karena kau!”

Temannya menelan ludah mendadak merasa bersalah sementara ekspresi bingung dan terkejut masih melekat erat pada wajah berfitur tajam itu. “Maaf?”

You should be. Minummu masih panas?” lelaki itu menatap cangkirnya dengan bingung, menggumamkan ‘ya’ yang hampir sehalus desiran angin. “Aku pinjam sebentar.” Krystal menanti Taem mendorong cangkir tersebut kearahnya, dan seolah tersengat listrik lelaki itu segera menarik tangannya saat tidak sengaja menyentuh jemari Krystal.

“Aku akan memesankan minum untukmu, tunggu disini.” Lelaki itu bangkit sebelum Krystal sempat menyahut, akan sayang kalau Taem membelikan minuman selain caramel macchiato karena Krystal tidak akan meminumnya. Tapi setelah dipikir-pikir suara Taem terdengar sengau, apa dia sakit?

Krystal masih dalam proses menghangatkan jemari-jemarinya ketika Taem kembali dengan cangkir di tangannya, mengangkat cangkir miliknya dan menukar dengan yang baru, lebih panas. “Thank you. Ini apa?”

Wajah Taem mendadak merona. “Aku lupa menanyakan minuman yang kau suka, jadi aku pesankan caramel macchiato. Jika kau tidak suka aku masih bisa minum.”

Mata Krystal membulat penuh haru. “You’re the best, I love caramel macchiato!” gadis itu segera menyeruput minumnya, tidak peduli dengan panas yang membakar lidahnya. “Right, kau pernah bilang tidak akan minum kopi jika tidak terpaksa. Lantas itu apa yang kau minum?”

“Sama dengan punya-mu.”

Gadis itu mengangguk sebelum memagut dagunya di atas telapak tangan. “Suaramu sedikit sengau, kau sakit?” Seolah Krystal menanyakan alogartima, anak laki-laki bermata tajam namun jenaka itu mengerutkan keningnya bingung. “Not that I care or what, tapi suaramu berbeda dari waktu kita di telephone. Seperti lebih berat dan serak, karena itu aku tanya kau sakit atau tidak?” Taem menggeleng, tidak bisa mempercayai suaranya karena saat ini gadis asing dihadapannya yang memikat perhatian hampir seluruh pengunjung café tengah menatap penuh perhatian padanya. Dan well, Taem tidak tahu semalam mimpi apa hingga dia bisa mengalami ini. Tapi Taem hampir mengerut saat gadis dihadapannya menyetuh sebuah topik pembicaraan yang sangat sensitive baginya.

“Kulitmu…. Jauh lebih bagus daripada di foto.” Nada bicaranya seolah begitu terpesona, namun Taem tidak bisa mempercayai pendengarannya. “Ahem, bukannya aku menguntit atau apa, tapi pemberitahuan setiap kau ganti foto muncul di timeline ku. So yeah…,”sambungnya menggantung, kembali meneguk minumannya dan hampir tersedak ketika melihat jam dinding yang terpajang di sayap kanan café.

Crap!” Krystal melihat jam kulit yang melingkar di pergelangannya untuk memastikan. “Film-nya mulai 15 menit lagi!” Gadis itu menyampirkan tasnya di pundak dan segera berdiri, namun kemudian mengerutkan kening ketika lelaki di depannya tidak ikut berdiri. “Ayo!” Krystal menarik tangannya dengan tidak sabaran, hampir membuat lelaki yang menjadi korbannya terhantuk kaki meja.

“Tunggu, tunggu!”

“Kalau mau bicara nanti saja,” sahut Krystal di sela napasnya. “I’m not gonna miss this movie, Taem. You know how much I love this movie, right?”

Taem memutuskan untuk, well fuck it, saat ini dia hanya akan mengikuti kemana gadis yang tengah mencengkram erat pergelangan tangannya dan mempertanyakan hal membingungkan di kepalanya nanti. Taem sibuk memastikan kakinya tidak tersangkut dengan benda-benda di jalanan dan sesekali terpesona dengan rambut panjang gadis di hadapannya yang sesekali menyentuh kulit wajahnya. Aroma madu dan susu yang sebagian besar tersembunyi di balik beanie merahnya, Taem hampir mabuk ketika tubuhnya tidak sengaja membentur punggung Krystal dan nyaris membuat mereka terjerembab.

Watch it!”

Well, kau berhenti tanpa aba-aba.”

Krystal memilih untuk tidak mempermasalahkan hal tersebut dan sibuk mencari dimana papan pemberitahuan film-nya. “Mana tiketnya?”

“Huh?”

“Tiket, duh. Kau bilang kau yang akan beli tiketnya sementara aku yang akan bayar makan malam.”

I did?”

Gadis itu menatap Taem seolah anak laki-laki itu memeiliki tiga kepala tapi kemudian mendesah kesal. “Sepertinya aku yang hampir beku kedinginan tapi otakmu justru yang sepertinya membeku. Aku akan beli tiket dan popcorn, kau harus bayar makan malam nanti!” tidak ada ruang untuk mengelak, Krystal meninggalkan temannya untuk mengantri di loket tiket.

Perlahan pikirannya melayang. Dianya tidak pernah seaktif ini jika bertemu orang baru, meskipun sudah berbincang melalui dunia maya selama dua bulan lebih. Still, sepertinya Krystal akan mendadak merasa canggung atau bagaimana terlebih ketika lawannya jauh lebih pendiam dibandingkan ketika mereka chatting. Alih-alih merasa kecewa karena Taem tidak selucu dan seramai itu, Krystal malah merasa gemas dan ingin sekali menggoda dan membuat wajah Taem merona. Because it was the cutest thing ever! Sebuah kontras di pahatan wajahnya yang tajam dan seolah dia hanya tidur 5 menit sekali.

Taem masih berdiri di tempat yang sama ketika Krystal meninggalkannya, tapi terdapat determinasi di wajahnya. Seolah selama kepergian Krystal dirinya membuat keputusan terhebat yang akan membuat dunia menjadikannya pahlawan.

“Uh, ak—,”

“—hush, cepat pegang ini!” Krystal menyerahkan dua gelas coca-cola ke dada Taem sementara dalam pelukannya terdapat satu karton popcorn ukuran besar. “Ayo masuk, intronya sudah mulai!”

Taem terlihat ingin sekali mengubur dirinya hidup-hidup tapi kemudian mendesah pasrah dan kembali mengikuti Krystal.

“Kau punya selera yang bagus.”

I know,”

See, kau bisa Bahasa inggris!” Krystal berseru riang. “Kau selalu bilang tidak mengerti setiap aku membalas chat-mu dengan Bahasa inggris.”

Did i?

Yes, you did. Aku sudah ingin bilang dari tadi, tapi aku mau mengamati dulu seberapa natural keahlianmu.” Gadis itu tertawa membuat Taem ikut terkekeh. “Right, Taem, kau harus merekomendasikan lagi tempat makan yang enak seperti tadi. Aku sering kesulitan menentukan tempat makan.”

“Uhm, okay. Tapi—,”

Hold up,” potongnya sembari mengangkat tangan kanannya, di tangan kiri ponselnya berdering. “Apa?” ucap Krystal begitu menyentuh gambar berwarna hijau di layar ponselnya. “Nope, he’s with me. ….No one stood me up, Amber, for good sake. ….I swear, why would I lie about things like that? ….Oh my god, you’re not even my mom.”

Taem hampir tersedak ketika Krystal menyodorkan ponsel di depan wajahnya. “Kenapa?”

“Dia mau bicara padamu.”

Sedikit ragu, Taem menerima ponsel Krystal. “….uh, no I’m not. ….I—,”

“—I!” tidak tahu kapan, Krystal sudah kembali merauh ponselnya. “Huh? Maksudmu? Amber? Hello? Amber? Am-friggin’-ber!” gadis itu menggeram untuk yang kesekian kalinya, Taem khawatir kerutan di keningnya akan jadi permanen. “Maaf ya, aku tidak bermaksud tampil menyeramkan begini. Tapi temanku, Amber, terkadang sedikit menyebalkan.” Keluh Krystal sembari mengutak-atik ponselnya, sementara Taem hanya bisa berdiri dalam diam dan kebingungan. “Well, aku tahu maksudnya baik. Aku juga pasti akan lari padanya jika kau benar-benar stood me up, Taem. Tapi—wait, wow, give me a sec.”

Seolah aku yang tidak berhenti bicara sejak tadi. Gerutu Taem dalam hati.

“Kau bukan Taem?”

Okay, sebentar. Apa yang terjadi di sini? Taem bukan Taem?

Krystal kembali memfokuskan pandangannya pada layar ponsel, menggerakan jemarinya dengan hati-hati. “You are not Taem,” ulangnya dengan tatapan nanar.

Taem—bukan Taem, entah siapa dia sebenarnya yang pasti dia oh-luar-biasa-tampan—menatap Krystal sedikit malu, merasa bersalah, namun juga bingung. “Aku sudah coba memberitahumu bahwa mungkin kau, uhm, memang salah orang. Aku tidak bermaksud memanfaatkanmu, tapi, uhm, yeah, uhm, the point is I’m not the guy you think I am.”

Selama beberapa waktu Krystal tidak berbicara hanya terus menatap wajah lelaki di hadapannya dan layar ponsel secara bergantian, tidak bisa mengucapkan satu patah katapun dari berbagai macam pikiran yang memenuhi rongga kepalanya. Krystal tidak ingin marah, tidak juga kecewa, dia hanya luar biasa bingung harus bereaksi seperti apa.

“Jika aku boleh tahu, apakah… Taem—jika aku tidak salah sebut, mengatakan alasan dia tidak hadir?”

“Flu perut.”

“Oh.” Lelaki itu menggaruk kepalanya yang tidak gatal, entah kenapa merasa canggung dan merasa tidak enak di saat bersamaan. “You alright?”

Krystal bersyukur lelaki dihadapannya tidak mengatakan hal semacam ‘I feel sorry for you’ atau semacamnya, karena dia justru akan memukul wajahnya untuk menutupi rasa malu. “Siapa namamu?”

Seolah tidak menyangka gadis itu akan menanyakan namanya, dia terdiam untuk beberapa saat sebelum menyahut dan merasa bodoh. “Ka—Jongin, Jongin Kim.”

“Okay, Jongin, namaku Kr—Soojung, tapi pasti kau sudah tahu karena sejak tadi siang aku tidak berhenti bicara. And… uhm,” jedanya sedikit ragu, Krystal tidak yakin akan sesuatu hal yang dia tidak tahu apa yang entah bagaimana membuatnya mendadak tersipu. “I kinda like your company—,”

“—I do too,” potong Jongin sedetik terlalu cepat. “Dan aku berharap kita bisa melakukannya lagi, if you don’t mind.” Lucu bagaimana wajah Jongin bisa berubah dari full-of-sexy-determination menjadi oh-so-cutely-sheepish yang membuat Krystal ingin mencubit pipinya. “Aku tahu pasti terdengar sedikit menyeramkan, terlebih kita bertemu karena kesalahpahaman. Jadi tidak masalah jika kau tidak mau berbincang lebih lanjut denganku, seharusnya aku tahu diri. Jadi, uhm, mungkin lebih baik jika aku pergi sekarang. Tapi, uh, ya, uhh, aku, uhm… nevermind, aku akan—,”

“—I will.”

Jongin hampir terpeleset permukaan licin aspal yang tertutup es. “Maaf?”

I mean, uh, I’d love to have a… date,” wajah Krystal rasanya mau meledak, dan dia tidak tahu seberapa merah wajahnya. Apakah mengalahkan kepiting rebus atau baju Santa. Tapi wajah Jongin tidak kalah merahnya, jadi Krystal merasa senang. “…with you again…?”

Krystal takut Jongin kehilangan arwahnya karena lelaki itu terpekur dengan tatapan yang tidak fokus sama sekali dan dia benar-benar tidak bergerak. Astaga. Dia hampir ingin mencubit lengan Jongin ketika lelaki itu tahu-tahu mengedip dan seolah baru saja jatuh dari lantai 3, tubuhnya mengejang sedikit.

“Senang mendengarnya.” Katanya dengan senyum yang perlahan merekah, begitu terang mengalahkan mentari pagi tadi dan menghangatkan hampir sekujur tubuh Krystal. “For now, let’s get you home.”

Yeah, yeah let’s go home.”

Keduanya berjalan berdampingan dalam kesunyian yang terasa nyaman, meninggalkan jejak sepatu di atas tumpukan salju, dengan senyum yang tersembunyi.

How was the date?” tanya Victoria ketika Krystal melepas sepatunya, senyum keibuan menampilkan diri di wajah wanita itu.

“Taem tidak datang,” katanya memberi jeda saat memasukan sepatunya ke laci. “Tapi seseorang datang sebagai pengganti, atau lebih tepatnya aku menemukan seorang pengganti.”

Victoria terlihat ingin bertanya lebih lanjut, tapi rona di wajah Krystal yang entah karena dingin atau malu membuat wanita itu memutuskan untuk mempertanyakannya nanti. “Jelaskan pada Amber soal hari ini. She was furious, kau tahu dia tidak suka dengan laki-laki yang tidak menepati janjinya. Apapun alasannya. Terlebih hari ini luar biasa dingin, dan dia khawatir sekali kau akan berkeliaran sendiri karena malu pulang ke rumah.”

Keduanya tertawa, hingga sosok yang dibicarakan muncul. “Beritahu aku dimana Taem tinggal!”

“Tidak perlu, Taem kena flu perut jadi aku mentoleransinya. Lagi, aku menemukan sosok pengganti Taem siang tadi. Magically.”

Yeah?” Amber terlihat ragu.

Yeah, and it turned out okay. The date, and the guy. Today was nice.”

Rona di wajah Krystal sepertinya cukup membuat Amber yakin, jadi dia membiarkan gadis itu masuk ke kamarnya tanpa interogasi lebih lanjut. Krystal baru akan melempar ponselnya ke atas Kasur ketika sebuah pesan baru masuk.

Just got home, safely. How’s Amber? She won’t cut me into pieces, right?

Untuk kesekian kalinya hari itu, Krystal terkekeh senang.

END

24.12.15

00:30

note: Sorry for the misspell atau grammar error. Maaf juga untuk tata Bahasa Indonesia yang gak karuan. Aku baru aja sembuh dari WB selama 1,5 tahun. Wish me luck bisa lanjut nulis lagi ya.

Oh, happy birthday to me.

LOL pingin banget diucapin xD

Advertisements

2 thoughts on “Turned Out Okay

  1. Lan, ini bagus, lho. Cuma mungkin kamu terlalu banyak kebawa bahasa inggrisnya sehingga ‘telephone’ dan ‘sensitive’ tidak terindonesiakan. aku suka percakapan amber sama krystal. dan krystal sama jongin.
    Nice fic, lana ^^

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s