The Perks of Living Together: You Got To See What Others Don’t

The Perks of Living Together: You Got To See What Others Don’t

ad90137ctw1ee2xxxdpdlj215o0rsdsy

Diperuntukan kepada pembaca 15 tahun ke atas,  pembaca yang masih di bawah 15 tahun mohon baca dengan bijaksana dan untuk tidak mencontoh apa yang tidak patut di contoh

Cast: Zhang Yixing (EXO), Wu Yifan

♦♦♦

“Bukannya aku bermaksud merusak hubunganmu dengan Silver atau apa, tapi coba kau pikirkan lagi keputusanmu untuk tinggal bersama.”

♦♦♦

Yixing sudah setengah jalan menuju Kuil Ketenangan di alam mimpi ketika bel rumahnya bernyanyi riang, mengganggu si empunya dan tetangga tak bersalah. Entah dia punya sinyal telepati yang kelewat kuat atau malah indra keenam, tapi dia sudah bisa membayangkan siapa yang akan disambutnya tengah malam begini.

“Memang cuma kau yang bisa kuandalkan, Xing.” Kalimat itu langsung merasuk ke pendengarannya begitu pintu terbuka, dengan mata setengah terpejam setengah juling dia bergumam tidak jelas untuk menyahuti. Maksudnya ingin mempersilahkan masuk, tapi toh si tamu sudah lebih dulu membuat dirinya nyaman di ruang tamu mungil Yixing.

Sebenarnya Yixing tidak perlu repot-repot menjamu tamu yang satu ini, tapi memang dasar wataknya yang budiman jadinya dia tetap menyiapkan selimut dan bantal untuk si tamu. Dalam hati berharap tamunya akan segera tidur begitu mendapatkan selimut dan bantal yang berarti Yixing bisa kembali tidur.

“Yifan—,”

“—tidak, tidak usah repot-repot. Aku akan buat teh sendiri.”

Sebenarnya Yixing ingin bilang selamat malam dan selamat tidur. Tapi jika tamunya ingin minum teh, oke, Yixing bisa menunggu beberapa menit. Kasur dan selimut hangatnya bisa menunggu beberapa menit lagi, iya, sebentar lagi Yixing bisa kembali tidur asalkan Yifan tidak mulai mencurahkan isi hatinya.

“Aku tidak percaya bahwa dulu aku begitu semangat mengajaknya tinggal bersama.”

Well, selamat tinggal tidur. Halo cerita membosankan ala telenovela.

“Yeah?” Yixing menguap, rapat bulanan hari ini begitu alot dirinya baru bisa pulang jam 11.30 dan tidur jam 12.05. Oh, itu baru setengah jam yang lalu.

“Aku tidak mengerti perempuan, benar-benar tidak mengerti.”

Aku tidak mengerti dirimu, benar-benar tidak mengerti. Yixing ingin menyahut begitu tapi lebih memilih untuk pindah dari beanbag ke sofa yang tadi di duduki Yifan, menyambut senang sisa kehangatan di lingkaran tempat bokong Yifan bertengger satu menit yang lalu. Dia benar-benar tidak peduli Yifan akan menggrataki barang-barangnya di dapur, untuk saat ini benar-benar tidak peduli.

“Cerita yang aku bilang waktu itu? Sirna semua, Xing. Now I understand why my parents keeps fighting over nothing.”

“Mungkin ini cuma badai biasa.” Setengah hati Yixing menyahut.

“Badai biasa? Masalahnya memang biasa, tapi mengocehnya yang luar biasa! Astaga.” Tidak tahu kapan Yifan memasak air, tapi dua cangkir teh sudah tersaji di coffee table. “Bukannya aku bermaksud merusak hubunganmu dengan Silver atau apa, tapi coba kau pikirkan lagi keputusanmu untuk tinggal bersama.”

“Kenapa aku harus melakukan itu?” Yixing bangkit dengan otak yang lebih segar dari sebelumnya. Yifan sudah membawa Silver ke dalam pembicaraan tidak penting ini, Yixing perlu tahu apa yang akan Yifan bilang soal kekasihnya.

“Karena hal ini membuatmu ingin membunuh Luhan.”

“Luhan?” Tadi Silver, sekarang Luhan. Sebenarnya sepelik apa masalah ini hingga Yifan harus menyeret pihak ketiga dan keempat segala. “Aku tidak mengerti.”

Yifan menghela napas lelah, seolah dirinya yang harus bangun tengah malam karena Yixing mampir untuk mencurahkan isi hatinya. “Kau ingat pembicaraan kita di kantin kan?” Lelaki itu menyodorkan cangkir merah pada Yixing dengan tangan kanannya, sementara tangan kirinya mendekatkan cangkir biru ke bibirnya. Yixing mengangguk mengiyakan sembari menangkup cangkir tehnya. “Luhan paling senior urusan cinta dan hubungan di antara kita bertiga, wajar jika aku bertanya padanya kan? Kau ingat waktu aku tanya bagaimana rasanya tinggal bersama?”

Yixing mengerutkan kening, bibirnya menyesap cairan pekat itu hati-hati. “Yeah, katanya ‘kau akan menyaksikan apa yang orang lain tak bisa saksikan’.”

“Jangan lupakan ekspresi wajahnya ketika bilang begitu. Senyum mesum iblis yang melekat di wajah malaikatnya itu, aku ingat betul.” Yifan meneguk tehnya. “Oke, kuakui waktu itu pikiranku sedikit liar dan tergoda dengan.. eherm… imajinasi tak senonoh. Tapi dia tidak memberikan peringatan tentang ini!” Kali ini Yifan menenggak habis tehnya dengan wajah marah.

“Aku benar-benar tidak mengerti, jangan buat aku penasaran!” perotes Yixing tidak sabaran.

“Luhan tidak memperingatkanku tentang betapa indahnya perempuan saat berbalut handuk dengan rambut basah yang acak-acakan!” Yixing tidak bisa mempercayai apa yang barusan dia dengar. “Berengsek, ini bukan sekedar indah, ini surga. Aku tidak akan tahan hidup seperti ini, Xing! Suri terlalu indah untuk hatiku yang lemah ini.”

“Semoga tidurmu nyenyak, Yi-ass-fan.” Yixing mengambil bantal dan selimut di sofa, membawanya kembali masuk.

“Xing! Xing!” Yifan berusaha memanggil di tengah sakit perut akibat terbahak. “Yixing sahabat terbaikku! Huahahha…,” kali ini Yifan hampir berguling di atas karpet.

“Aku tidak percaya kau membangunkanku sebelum ayam hanya untuk mendengar cerita murahan seperti itu!” omel Yixing dari dalam kamar. “Enyah dari rumahku! Aku tidak punya teman sepertimu!”

Alih-alih mendengar suara pintu ditutup, justru suara tawa Yifan menggelegar makin keras. “Oke, oke maafkan aku.” Setidaknya Yifan berusaha menghentikan tawanya. “Xing? Xing? Aku bilang minta maaf.” Yifan mulai khawatir, diketuknya pintu kamar Yixing.

“Berisik!” Yifan praktis menjauhkan tangannya dari pintu begitu mendengar seruan marah Yixing.

“Aku mungkin keterlaluan, dan aku minta maaf untuk itu. Tapi setidaknya berikan aku selimut,”

Tidak ada jawaban. Ini tidak bagus, ini bahaya. “Yixing?” panggil Yifan sekali lagi dan tetap tidak ada jawaban. Oke, besok Yifan akan benar-benar membunuh Luhan atas idenya.

14-05-16

06:04pm

Notes: I’m sorry but i miss chinaline so much to the point of im able to write in the middle of writer block and TA writing’s riot, this is may not be much but whatever i just miss them so much i cant explain with words.

Advertisements

2 thoughts on “The Perks of Living Together: You Got To See What Others Don’t

  1. Aa’ yixing *0*
    Aku kira si yipan mo ngomong apaa gitu ya, trnyata… *sambitpakegolok*
    Dua orang macam ni perlu dilestarikan. Aku tunggu cerita dua bocah ini brikutnya kak..xD

    1. Dhila…. kamu baca… aku terharu…
      temenku bilang ini…sangat anti klimaks dan “lo mau bikin apa sih lan?”
      dia gak ngerti aja rasanya writer block hahaha
      makasih Dhila udah setia banget mampir, doakan kisah dua bocah ini yang lebih baik bisa segera muncul ya hoho
      :*

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s